fbpx
  • Search
  • Lost Password?

Tentang Menikah Lagi (Part 3)

Share this post

Tentang Menikah Lagi (Part 3)

Tentang Menikah Lagi (Part 3)

Diskusi tentang menikah lagi jadi materi yang nggak pernah basi.

Sama-sama pernah gagal di pernikahan, sadar atau tidak, saya dan teman saya jadi sering bahas topik ini. Kadang sambil lalu, lebih sering sambil nggak jelas alias sekadar curhat saja.

Jika pernikahan diibaratkan ruangan berpintu, kami saat ini memang ada di luarnya. Dan berada di luar, memudahkan kami melihat hal-hal yang dulu tidak kami lihat. Biasa kan, penonton selalu lebih jeli ketimbang pemain. Atau penontonnya yang sok tahu, ya?

Satu yang saya sesali adalah tidak pernah membantah pasangan saya dulu. Saya tidak mendidik dia dengan baik. Padahal, itu tanggung jawab saya,” katanya separuh menyesal separuh emosional.

Iya memang. Nggak bisa kamu berharap begitu saja dapat sosok yang sempurna sebagai istri dan sebagai ibu. Kan nggak ada sekolahnya.

Nah iya. Saya pikir, dia bisa jadi seperti ibu saya, lho. Cantik dan pintar. Tapi saya salah.

Jadi, kita memang nggak boleh berasumsi, ya. Semua harus didiskusikan. Dibicarakan. Masing-masing mau apa, bisa kompromi di mana… gitu?

Mungkin.

Komunikasi adalah salah satu kata sakti dalam pernikahan. Saya sekarang sangat percaya itu. Semua harus didiskusikan. Bahkan meskipun sambil cakar-cakaran, tetap harus dilakukan. Tidak boleh ada ganjalan. Hal lain yang saya masih harus terus latih adalah bertoleransi. Karena mau nggak mau, berkompromi jadi jalan tengah yang harus diambil pasangan jika berbeda pendapat. Namanya dua orang dengan latar belakang berbeda, kemungkinan beda pendapatnya akan besar sekali. Seberapa jauh saya mau berkompromi? Sampai saat ini, terus terang saya belum bisa menjawab.

Salah satu ironi dalam hidup saya adalah punya ijazah master komunikasi dari sekolah di Amerika, tapi gagal membangun komunikasi yang baik dengan (saat itu) suami. Ini menjadi catatan yang sangat penting, yang tentunya tidak akan saya abaikan jika kelak (insya Allah) ada jodoh lagi untuk saya

Memang, saya belajar tentang pernikahan sehat dengan cara yang pahit dan sangat menyakitkan hati. Pelajaran yang sangat mahal. Meskipun begitu, boleh dong saya tetap berangan tentang pasangan di masa depan? Saya masih berharap menemukan pasangan yang sukarela mendampingi saya, bisa bertukar pikiran tentang segalanya, tidak terintimidasi karier saya, mendukung saya sepenuhnya, dan jatuh cinta pada saya setiap hari. Klise? Biarin. Saya juga paham kok, untuk mendapatkannya, saya pun harus rela bertindak resiprokal.

Pengen juga ada pasangan. Hmm… tapi saya maunya dapat pasangan yang mengalah, terus-terusan,” katanya tiba-tiba.

Eh… gimana….

Ya pokoknya semua tergantung maunya saya. Ide saya saja yang dikerjakan. Terserah saya. Dia nggak boleh punya suara.

Bisa gitu ya? Mana dong, kesetaraan dan konsep-konsep ideal yang lain?

Ideal buat siapa? Bayangkan, kalau hanya ada satu suara, rumah tangga pasti aman damai. Langgeng.

Saya sebetulnya nggak setuju. Tapi karena nggak mau berbantahan tanpa ujung, sebaiknya saya pilih makan es krim saja.

Share this post
Written by
Budiana

Content Partner, b/ndL Studios. Tinggal di Tangerang Selatan

View all articles
Leave a reply

1 comment
  • Suka banget dgn tulisan mbak Budiana ttg serba-serbi Menikah Lagi, really saya mengalami semua pertimbangan itu, sehingga spt di ingatkan dan lbh hati2,
    Semoga lebih produktif menulis lagi mbak, sharingnya sangat2 bermanfaat khususnya buat saya, thank you so much 🙏🙏

Written by Budiana

Founder

Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra remaja 14 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

SMI Podcast

Supported & Recognized by