Tulisan ini pertama kali dimuat di blog Single Mom’s Diary milik Rahayu Ujianti Putu seorang Ibu tunggal yang telah menjalankan peran selama 11 tahun dan telah mempublish buku dengan judul yang sama Single Mom’s Diary.

Berpikir Ulang Tentang Stigma Broken Home

Kenyataannya, bukan hanya perempuan dengan status orang tua tunggal yang lekat dengan stigma negatif, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan orang tua tunggal juga lekat dengan julukan anak broken home. Anak-anak broken home ini divonis berpotensi mengalami berbagai masalah baik secara perilaku maupun sosial. Mengapa demikian? Sebab masyarakat masih menganggap anak-anak yang diasuh dalam keluarga dengan orang tua lengkap pasti tumbuh lebih baik daripada anak-anak yang diasuh hanya oleh salah satu orang tua. Well-being (kesejahteraan), terutama kesejahteraan psikologis anak yang diasuh oleh keluarga utuh juga pasti lebih baik daripada anak yang diasuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal.

Padahal, tidak selalu demikian.

Stop Label Broken Home

Ada tiga perspektif untuk melihat hubungan antara perpisahan orang tua dengan well-being anak. Perspektif pertama menganggap ketidakhadiran salah satu orang tua dianggap sebagai penyebab anak menjadi tidak sejahtera dan tumbuh menjadi anak bermasalah. Namun kenyataannya ada banyak kasus anak “bermasalah” meskipun tinggal dengan kedua orang tua kandung. Menariknya, riset juga mengindikasikan, pada anak-anak yang orang tuanya mengalami perpisahan, lalu menikah lagi, ternyata anak-anak yang tinggal dengan ayah/ibu tiri ini menunjukkan problem perilaku lebih banyak bukan hanya jika dibandingkan dengan anak yang kedua orang tuanya lengkap, namun juga dengan anak yang tinggal dengan orang tua tunggal.

Perspektif kedua, ketidakberuntungan ekonomi, menyoroti soal perekonomian keluarga yang berubah drastis pasca perpisahan. Setelah berpisah, ayah menelantarkan dan menolak memberikan nafkah, mengabaikan kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak, menjadi pukulan yang berat bagi ibu tunggal dan anak-anak. Apalagi jika sang ibu tidak bekerja atau bekerja dengan income yang tidak mencukupi sehingga keluarga jatuh dalam kemiskinan, ketidakberdayaan dan stres menghadapi tekanan hidup. Kasus seperti ini banyak terjadi di Indonesia. Meski aturan agama dan pengadilan sudah memutuskan ayah wajib menafkahi, namun banyak yang melenggang dan menghilang begitu saja. Sayangnya, jika ibu kemudian sibuk bekerja, masyarakat tetap saja menjadikannya sebagai alasan penyebab anak menjadi rentan ‘bermasalah’ karena tidak cukup mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua (ibu).

Namun sekali lagi, riset membantah hal tersebut. Pada ibu yang menikah lagi, semestinya income dan kehadiran ayah tiri menjadi solusi bagi kesejahteraan finansial dan kehadiran role model atau pengganti figur ayah. Kenyataannya ada kasus anak-anak yang orang tuanya menikah kembali dan tinggal bersama mereka, menunjukkan problem perilaku yang lebih tinggi daripada anak yang tinggal dengan orang tua tunggal (Amato dan Keith: 1991)

Perspektif ketiga melihat timbulnya masalah pada anak disebabkan oleh stres akibat menyaksikan orang tua yang berkonflik terus menerus baik pada saat pernikahan, saat proses perceraian, dan bahkan setelahnya. Anak bingung, marah, dan tertekan melihat kedua orang tuanya bersikap tidak baik dan saling menyakiti satu sama lain. Bukannya memberikan perhatian pada anak akibat perubahan yang dialami anak karena perceraian, orang tua malah menghabiskan energi untuk bertikai. Kemampuan orang tua untuk berinteraksi dengan anak juga menurun drastis akibat konflik. Padahal anak memerlukan pendampingan khusus dalam proses menerima dan memahami keputusan orang tuanya untuk berpisah.

Perspektif ketiga ini saya anggap lebih cocok untuk menjelaskan mengapa anak-anak yang tinggal dengan orang tua tunggal menjadi tidak sejahtera dan bermasalah. Bukan semata karena perubahan struktur keluarga (salah satu orang tua tidak hadir) atau perubahan ekonomi namun lebih karena dinamika interaksi antara ayah dan ibu yang penuh konflik. Coba bayangkan bagaimana perasaan anak ketika sedang bersama ibu, mendengarkan bagaimana ayah mereka dimaki dan dijelek-jelekkan. Atau sebaliknya ketika bersama ayah, ibunyalah yang menjadi bahan sumpah serapah dan disalah-salahkan. Anak menjadi target kemarahan, tempat sampah dan pengirim pesan kebencian. Mengerikan, bukan?

Rumah bukan lagi menjadi tempat yang nyaman untuk anak. Anak juga malas berdekatan dan berinteraksi dengan orang tua karena bentuk interaksi menjadi sangat negatif. Jika mereka sudah berusia pra remaja dan remaja, mereka mungkin akan memilih berada di luar rumah. Menyalurkan kemarahan dan ketidakpuasan dalam berbagai bentuk kegiatan yang tak jarang rentan terhadap bahaya. Jika mereka masih kanak-kanak, mereka akan menunjukkan perilaku agresif pada anak lain, atau sebaliknya menjadi sangat pendiam, tertutup dan menarik diri. Apalagi jika kerap menyaksikan orang tua bertikai hebat, anak-anak berpeluang merasa ketakutan sepanjang waktu dan menyalahkan diri sebagai penyebab konflik.

Jika kedua orang tua bisa bekerjasama mendahulukan kepentingan anak daripada konflik mereka sendiri, jika salah satu pihak saja bisa mengerem amarah dan ketidakpuasan mereka, maka anak bisa terhindar dari stres berat dan permasalahan perilaku yang muncul menyertai. Meskipun tidak banyak, saya melihat beberapa mantan pasangan suami istri bisa melakukan ini. Mereka sadar, mereka berpisah karena memang tidak bisa bersama-sama lagi, tetapi mereka paham betul bahwa mereka adalah tetap ayah dan ibu bagi anak-anak mereka. Meski berat di awal, tapi seiring waktu mereka dapat melakukan co-parenting dengan baik. Ada juga yang dengan sukarela menyerahkan hak asuh pada salah satu pihak, bukan karena tidak menginginkan hak asuh, tetapi karena kesadaran perebutan hak asuh hanya akan membuat anak-anak lebih menderita. Ada yang memilih menutup mulut rapat-rapat, menahan diri untuk tidak menjelekkan (mantan) pasangan meski tak pernah hadir dalam kehidupan anak. Jangankan memberi nafkah, muncul saja tidak pernah. Bukan karena ingin melindungi mantan, tetapi semata karena ingin menjaga perasaan anak. Saya mengenal seorang ayah, yang sudah bertahun-tahun tidak diijinkan berkontak dalam bentuk apapun dengan anak-anak oleh mantan istri, namun tetap rutin menyisihkan nafkah dan membayar asuransi anak-anaknya. Jangan tanya bagaimana perasaannya. Tentunya semua tindakan yang saya ilustrasikan di atas butuh kedewasaan, kekuatan dan ketegaran untuk dijalani. (https://rahayujianti.wordpress.com/2016/05/04/creating-new-images-of-family/)

Bagi para ibu yang menjadi orang tua tunggal yang masih belum bekerja atau secara finansial belum mapan, menikah lagi tidak selalu menjadi solusi. Bangun kekuatan dalam diri, gunakan energi untuk berdaya secara ekonomi, Dimana ada kemauan, pasti ada jalan. Jangan buang-buang waktu dan tenaga untuk meratapi keadaan atau marah-marah pada mantan suami. Tanpa semua itu, anak-anak akan menyaksikan sendiri segala perjuangan. Mereka akan belajar bagaimana cara bertahan di saat sulit dan berdiri di atas kaki sendiri. Hal yang sangat penting dipelajari bagi kehidupan mereka kelak. They live by your example, Dear Single Moms.

Dan, please, kepada semuanya, jangan cepat-cepat memberi stigma broken home pada anak-anak yang diasuh oleh orang tua tunggal.

 

Rujukan:
Amato, P.R., Keith.B. (1991).Parental Divorce and Adult Well-Being: A Meta Analysis.
Journal of Marriage and The Family 53. 43-45

The following two tabs change content below.

Kontributor

Kontributor adalah penyumbang tulisan di blog Single Moms Indonesia yang bersifat rahasia. Mau menyumbang tulisan? Hubungi kami.

Latest posts by Kontributor (see all)

Comments

comments

One thought on “STOP Melabel Anak-Anak Kami Anak Broken Home!”

  1. Saya baru saja mengalami perceraian akibat orang ketiga. Saya mempunyai seorang anak usia 3 tahun. Hubungan saya dengan mantan suami tak kunjung membaik. Dia menolak untuk membayar nafkah anak dan tak pernah hadir dalam hidup anaknya.
    Dari dahulu pekerjaannya memang tidak jelas. Dia bukan seorang pekerja keras malah cenderung pemalas. Dari pernikahannya yang pertama (saya menikah dengan duda) dia mempunyai seorang anak. Hubungannya dengan sang anak tak terlalu dekat. Bisa dibilang memang dia tidak tau apa tanggung jawab seorang ayah. Bagi dia seorang ayah hanya berkewajiban untuk menafkahi anaknya. Setelah cerai dengan saya, dia menikahi selingkuhannya. Seluruh biaya hidupnya disokong oleh wanita itu. Merasa berkecukupan, semangatnya untuk menafkahi anaknya semakin kendor.
    1. Apa yang harus saya jelaskan pada anak ketika dia cukup dewasa dan mulai bertanya mengenai ayahnya?
    Jujur….saya belum bisa bersikap baik terhadap mantan suami. Yang bisa saya lakukan hanya diam, tak pernah membicarakannya dan tak membuka aibnya. Sudah jelas dia tak pernah menyesali perselingkuhannya karena dia tak pernah meminta maaf secara personal pada saya. Dia ingin saya berhubungan baik dengannya dan istrinya yang baru tapi sikap mereka masih menyebalkan dan merendahkan saya.
    2. Haruskah saya bersikap manis pada orang yang telah menyakiti saya? Kalaupun iya. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana caranya bersikap baik pada mereka tanpa memberi kesan bahwa saya membenarkan perbuatan mereka?
    3. Bersikap baik pada mereka tidak menjamin mereka akan bersikap baik pada kita, tak menjamin mantan suami mau menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah. Lantas apa gunanya saya bersikap baik? Salahkah jika saya memilih untuk lebih banyak diam? Tak banyak menuntut (terutama untuk nafkah anak dan perhatian pada anak)?
    Terimakasih banyak sudah mau membaca tulisan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *