Selamat Hari Anak Nasional 2017

Bekali wawasan anak dengan beragam warna, agar hidupnya semakin ceria penuh makna.

Ditulis oleh Budiana Indrastuti

Selamat Hari Anak Nasional 2017

Beberapa waktu yang lalu, sekelompok masyarakat yang menamakan diri Komunitas Bhinneka, mengadakan program jalan-jalan ke rumah ibadah. Mereka menghimpun peserta dari beberapa sekolah menengah, lalu bersama-sama mengunjungi rumah ibadah lima agama yang diakui pemerintah. Jadilah hari itu, berbondong-bondong remaja-remaja Indonesia memasuki rumah ibadah yang bisa jadi bukan yang biasa mereka masuki. Yang Kristen masuk ke masjid dan wihara. Yang Islam bisa menginjakkan kaki di gereja dan pura. Kegiatan di Bandung dan Jakarta ini mendapat sambutan hangat. Banyak dukungan yang diberikan pada Komunita Bhinneka agar menyelenggarakan lagi kegiatan serupa untuk kelompok usia yang lebih beragam.

Sebetulnya, apa perlunya mengunjungi rumah ibadah?

Dulu, ketika zaman belum sesibuk sekarang, anak-anak masih punya banyak kesempatan bermain dengan teman-teman dari kalangan yang berbeda. Generasi saya punya kesempatan merasakan berada dalam satu kesempatan dengan teman-teman yang berbeda kepercayaan. Dan ternyata kesempatan kebersamaan ini memberikan semacam “latihan perbedaan” bagi saya. Saya tak lagi canggung beribadah dengan cara saya sendiri, di antara teman-teman yang berbeda agama, karena saya telah terbiasa melakukannya sejak kecil. Saya juga terlatih untuk berhati-hati bertingkah laku dan bertindak, karena saya tahu tidak semua orang memiliki kepercayaan yang sama dengan saya.

Kesempatan itu ternyata tidak dimiliki anak saya. Kesibukan di sekolahnya membuat ia tak punya cukup waktu untuk berinteraksi dengan teman-temannya yang berbeda kepercayaan. Meskipun bermain bersama, karena waktu yang sempit, mereka tidak sempat merasakan, minimal melihat, perbedaan cara ibadah. Akibatnya, anak saya menjadi ragu tampil berbeda. Hal ini membuat ia menarik diri dan lebih suka bermain dengan teman-teman dari kepercayaan yang sama.

Apakah itu salah? Tentu tidak. Hanya saja, ketika kita hidup di Indonesia, yang memiliki beragam suku, berbagai budaya, dan landasan negaranya mengakui beberapa agama, sudah selayaknya kita membuka seluas-luasnya pergaulan. Agama tidak boleh menjadi sekat. Orang Islam, ketika ada di lingkungan yang sama sekali berbeda, misalnya di Bali, akan merasa aneh melihat tata cara ibadah orang Hindu yang sangat jauh berbeda dengan kepercayaannya. Belum lagi adanya kebiasaan sehari-hari yang dalam agama Islam dilarang, misalnya makan babi.  Padahal, ketika perbedaan dipermasalahkan, saat itulah terbangun pagar. Dan kesempatan seseorang untuk berkembang menjadi terbatas ketika terhalang pagar yang ia bangun sendiri.

Kelompok-kelompok seperti Komunitas Bhinneka, hadir untuk terus menggaungkan keberagaman. Kunjungan ke beberapa rumah ibadah akan mengakrabkan anak-anak pada kepercayaan di luar yang mereka anut. Kunjungan itu akan memperkenalkan mereka pada perbedaan yang sejatinya selama ini sudah ada di sekitar mereka tanpa mereka sadari.

Selamat Hari Anak Nasional 2017 (1)

Diharapkan, anak-anak semakin akrab dengan perbedaan, sehingga makin luwes bergaul dengan teman-teman yang berbeda. Ketika perbedaan menjadi kebiasaan, dengan sendirinya mereka akan memahami makna toleransi. Mereka mempelajari perbedaan tersebut untuk menjadi manusia yang lebih baik. Alangkah indahnya ketika mereka bisa saling mengingatkan untuk beribadah. Alangkah damainya ketika mereka tidak mempermasalahkan perbedaan agama. Saling menghormati ibadah masing-masing, bahkan saling melindungi sebagai sesama anggota masyarakat.

Bagaimana pun, dunia ini penuh warna. Kita, sebagai orangtua, bertanggung jawab memperkenalkan semua warna pada anak-anak kita. Mari mendidik anak-anak kita untuk memahami bahwa justru warna-warni itulah yang membuat keindahan dunia menjadi sempurna.


Single Moms Indonesia berharap seluruh anak-anak di Indonesia dapat menikmati masa kecil mereka dalam perbedaan. Kami  mempersembahkan video di bawah ini untuk peringatan Hari Anak Nasional 2017.

The following two tabs change content below.
Founder SMI, blogger sejak tahun 2004, ibu satu anak, drink way too much coffee, hobi jalan-jalan dan foto-foto.

Latest posts by Maureen (see all)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *