“Mbak, bagaimana agar bisa menjadi wanita yang kuat seperti mbak? Mantan suami saya pergi dengan wanita lain dan sekarang dia sudah nggak ngasih nafkah saya dan anak. Saya harus gimana mbak?”

Sadness

Pagi itu saya dibuat lemas dengan sebuah pesan di aplikasi social media saya. Pesan itu berasal dari seorang ibu yang saya kenal dari grup Facebook Single Moms Indonesia.

Untuk sejenak, jantung saya berdegup tak karuan. Jari pun kelu. Bingung mau mengetik apa. Bingung, bagaimana cara membalas pesan itu.

Siapa saya? Saya wanita kuat? Laah, cengeng begini, kuat dari mananya? Saya memang pernah terjatuh ke neraka dunia paling dalam -setidaknya menurut saya- dan hanya Allah lah yang membuat saya bisa bangkit dan bertahan sampai hari ini. Tapi, kuat? Ah, saya masih jauh dari kuat.

Ah, udah lah. Cuekin aja. Siapa kamu? Yang ada malah ngejerumusin orang dengan curhatan-curhatan alay khas kamu! Delete contact aja! Cuekin udaaah!“, bisik hati kecil saya. Saya pun menutup pesan itu.

Tapi…di sisi lain, hati kecil saya berteriak. “Bukankah kamu pun pernah ada di posisi yang sama dengan dia? Lalu apa yang kamu rasakan saat itu? Bukankah kamu dulu butuh seseorang untuk berbagi? Walaupun nggak bisa ngasih solusi, setidaknya dulu kamu butuh orang yang mau mendengarkan curhatan kamu kan?“. Deg! Rasanya seperti ditampar jika ingat masa-masa itu.

Saya pun langsung meraih handphone saya dan membalas pesan ibu tersebut. Pada akhirnya kami saling sharing, saling menguatkan. Dan alhamdulillah, ia sepertinya tampak lebih termotivasi untuk bangkit dari kondisinya saat ini.

Saya memang bukan motivator, tapi pengalaman memang guru yang terbaik. Dengan berbagi pengalaman yang tidak seberapa, ternyata hal itu bisa meringankan beban seseorang. Bahagia rasanya, bisa membantu seorang ibu tunggal yang masih dalam suasana ‘berkabung’.

Di awal, saya menyebutkan grup Facebook ‘Single Moms Indonesia‘ (SMI). Sebenarnya saya merasa cukup terlambat bergabung dengan grup ini. Baru sekitar satu tahun jadi single moms, saya baru ngeh ada grup ini. Tapi tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang baik 🙂

Untuk seorang single moms yang baru saja mengalami perpisahan dengan pasangannya (perceraian atau kematian), sebuah lingkungan positif benar-benar sangat dibutuhkan. Pada kasus saya, ketika saya dalam tahap perceraian, saya benar-benar tidak punya seseorang yang bisa dijadikan ‘pegangan’ dan tempat cerita. Orangtua saya bukan tipe orangtua yang akan memeluk dan mendengar keluh kesah anaknya dengan empati. Orangtua saya cenderung cuek dan sarkas walaupun di dalam lubuk hatinya saya tau kalau mereka sebenarnya perhatian dengan saya.

Awalnya saya pikir grup ini hanya berisi sekumpulan single moms madesu (masa depan suram) seperti saya. Yang menye-menye, cengeng dan menyedihkan. “Ya lumayanlah, bisa punya teman nangis bombay bareng-bareng,” pikir saya waktu itu. Tapi ternyata, anggota grup ini benar-benar di luar ekspektasi saya!

Betapa tidak, dari para anggota SMI ini saya menyadari bahwa menjadi single moms bukanlah akhir dari dunia. Menjadi single moms bukan berarti membawa beban stigma negatif dari masyarakat di pundak. Bukan pula menjadi perempuan bermuram durja dan bermasa depan menyedihkan. Apalagi menjadi seorang perempuan dengan aura negatif yang bisa menular bak penyakit mematikan. Tidak, jauh dari itu.

Dari para single moms di SMI, saya mulai berpikir bahwa saya harus bangkit, karena ternyata menjadi single moms nggak semenyedihkan itu! Bahkan saya merasa jauh lebih beruntung dari para single moms yang lain.

Bayangkan! Ada salah seorang ibu yang ditinggal suaminya ketika hamil muda untuk hidup dengan wanita lain! Atau ada seorang ibu yang memutuskan untuk nggak menikah dengan pria yang menjadi ayah biologis anaknya karena pria tersebut nggak punya tekad untuk menjadi kepala keluarga yang baik. Atau yang sebelas dua belas dengan saya, mengalami KDRT dan memutuskan untuk tidak membuang-buang waktu dengan pria yang salah.

Lalu, apa yang terjadi dengan ibu-ibu tersebut? Apakah mereka hidup dengan dendam abadi di dalam hati mereka? Apakah mereka berhasil move on dan melanjutkan hidup? Apakah mereka bisa menghidupi anak-anak mereka dengan tenaga mereka sendiri?

divorce

Awalnya saya sangsi. Helooo.. Mereka kan ibu-ibu biasa, bukan super hero. Kalau udah hancur lebur gitu mah ya paling mentok juga kayak saya. Jadi emak-emak galau susah move on (eh, tapi itu dulu, sekarang sih udah move on sampai Eropa! Hihi)

Ternyata, mereka yang udah babak belur dihantam cobaan hidup ini bisa berhasil melangkah maju. Lebih hebatnya lagi, mereka jadi perempuan-perempuan hebat!

Mereka berhasil memaafkan semua yang menyakiti mereka. Mereka sama sekali nggak menyisakan dendam di hati mereka. Karena untuk mereka, dendam itu hanya merusak hati, pikiran dan tubuh.

Bukankah Nabi Muhammad SAW juga pernah berkata,

“.. Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari)

Subhanallah, saya yang ‘cuma’ digituin sama Pak Mantan aja, rasanya butuh waktu lamaaaa sekali untuk bisa memaafkan. Bahkan kalau dibelah, mungkin masih ada ‘kerak-kerak’ dendam dan sakit hati yang menempel di hati saya. Rasanya susah sekali untuk bisa memaafkan. Memang benar kata orang bijak, orang yang hebat adalah orang bisa memaafkan seseorang yang telah menyakiti hatinya.

Dan lagi, yang membuat saya lebih terpukau, ternyata para single moms tersebut menjadi perempuan-perempuan mandiri yang mapan dalam segi emosi dan finansial. Yup, menjadi dewasa secara emosi dan mapan secara finansial. Hal itu dicapai karena kemauan mereka untuk bangkit dari keterpurukan yang mereka alami. Subhanallah.. Ini cerita nyata lho. Orang-orangnya saya kenal lho. Beneran, hehe..

Jadi, kalau ada pertanyaan tentang makna Cantik dari Hati versi saya, saya akan menjawab bahwa mereka yang punya kecantikan dari hati adalah mereka yang punya kemampuan untuk memaafkan tanpa ingat sehebat apa mereka telah tersakiti dan mereka yang bisa selalu mengambil hal positif dari setiap bagian kehidupan mereka, no matter what, bagian yang manis atau pahit, bagian yang membahagiakan atau memilukan.

Yup, kalau lima tahun yang lalu saya ditanya pertanyaan serupa, mungkin saya akan menjawab, bahwa mereka yang Cantik dari Hati adalah mereka yang baik budinya walaupun sudah terzolimi sedemikian rupa ala ala tokoh di sinetron. Nope, ternyata jadi baik aja belum cukup.

Para single moms di grup SMI sudah mengajarkan saya sesuatu yang lebih dari menjadi orang baik. Mereka sudah mengajarkan saya bagaimana menjadi perempuan yang memiliki kecantikan dari hati. Subhanallah..

Rasanya tidak salah jika saya mengatakan bahwa saya sedang belajar menjadi cantik dari para ibu tunggal tersebut. Karena buat saya, mereka adalah perempuan-perempuan tercantik yang saya kenal.. 🙂

Semoga suatu saat nanti, saya bisa cantik dari hati juga ya.. Semoga saya bisa memaafkan semua yang sudah terjadi dalam hidup saya dan menjadi perempuan mandiri yang bisa bertanggung jawab atas kehidupan anak saya.. Aamiin 🙂

Nah, kalau kamu, apa sih makna Cantik dari Hati versi kamu?

The following two tabs change content below.
- Bubunya Ahza - Life long learner mom - Blogger - Kids Book Advisor - Lecturer -

Latest posts by dc (see all)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *