• Search
  • Lost Password?

Perasaan Ibu Tunggal

Share this post

Apa sih yang sering kali dirasakan oleh Ibu Tunggal?

Hari ini saya coba bagikan dari perspektif saya yang terbentuk dari pengalaman pribadi menjalani peran ini selama 10 tahun sekaligus dari hasil pengamatan apa yang dirasakan teman-teman di Single Moms Indonesia.

Kadang kalau ada pertanyaan seperti ini yang ada saya pribadi suka bingung. Apa ya…mungkin karena sudah cukup lama, sudah terbiasa dengan peran ini. Tapi di bawah ini adalah beberapa perasaan yang sering berkecamuk di dalam hati juga pikiran kami para Ibu Tunggal.

Perasaan Ibu Tunggal

Perasaan Ibu Tunggal

  • We are Scared!

Terkadang kekhawatiran ini sudah muncul jauh sebelum pengadilan memutuskan rumah tangga kami resmi berakhir. Banyak ketakutan akan masa depan. Belum lagi jika kami memiliki anak lebih dari satu. Bagaimana kami akan menghidupi mereka sekaligus menjadi Ibu yang terbaik? Bagaimanakah anak kami akan menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya sudah berpisah? Apakah masyarakat akan menghakimi mereka yang kini berstatus anak brokenhome? Banyak sekali perasaan resah dan khawatir yang terkadang tidak bisa kami bagikan kepada orang lain.

Kami khawatir tentang banyak hal karena kami melakukan tugas dua orang.

  • Kami Banyak Memendam Rasa

Apalagi jika kami tidak punya teman yang bisa diajak ngobrol. Kami tidak punya pundak untuk sekedar bersandar sejenak. Tidak punya a shoulder to cry on di saat hidup terasa berat, tidak punya pasangan yang bisa mengirimkan jokes receh untuk bikin kami ketawa.
Kebanyakan rasa kami itu tertutup rapat, memenuhi hati juga pikiran kami sementara kami masih harus terus menjalankan peran sabagai orangtua dan tanggung jawab lainnya. Satu hal yang sangat membantu saya pribadi adalah journaling. Setidaknya hal ini membuat perasaan terpendam itu ‘lepas’ dari kepala.

  • Kami Sebenarnya tidak Sekuat Ini

Dari luar, mungkin kami terlihat kuat. Mungkin orang lain berkomentar “Kamu kuat banget” padahal belum tentu kami sekuat itu lho. Mengurus jadwal anak-anak, bekerja professional, mengurus rumah.

Sejujurnya banyak kok yang belum ‘sekuat’ itu tapi kami tidak punya banyak pilihan kan? Tugas sebagai orangtua yang wajib mengurus anak tidak mungkin kami tunda hanya karena hati kami berdarah-darah.

Tapi kami juga butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu, menerima masa kini dan menemukan positive outlook untuk masa depan kami bersama anak-anak.

  • Menjadi Ibu Tunggal adalah “Pekerjaan” Terberat

Jadi single mom itu nggak mudah! Apalagi kita nggak punya ‘partner’ untuk membackup kita. Tidak ada orang lain yang bisa kita ajak berbagi tugas selain keluarga atau mungkin asisten rumah tangga tapi banyak dari kami yang tidak seberuntung itu punya support system. Tidak ada orang dewasa lain di dalam rumah yang bisa kami ajak berdiskusi soal hal-hal besar. Misalnya saat anak sakit atau sedang tantrum, semuanya jatuh di pundak kami. Kami wajib mengerjakan semuanya – pekerjaan, mengurus anak, mengurus diri sendiri, mengurus rumah – tanpa bantuan pasangan.

Banyak single moms yang juga karena kondisi terpaksa harus LDR-an dengan anak karena tuntutan pekerjaan. Bayangkan betapa nelangsanya hati harus berjauhan dengan anak?

Banyak dari kami yang hidup sendiri tanpa dukungan keluarga. “Pekerjaan” ini berat banget dan kami rasanya kelelahan sepanjang waktu.

  • Kami Berusaha Untuk Tidak Menjadi Beban

Kalau pesan kamu di WhatsApp baru bisa kami jawab tengah malam setelah anak-anak tertidur, tolong berikan kami pengertian ektra. Bukan maksud kami untuk cuek, tapi we are really trying to run everything on our own. Kadang rasanya kami ingin punya kemampuan membelah diri.

Kami juga tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Jadi kalau kami tidak berkabar, tolong jangan lupakan kami. Pesan WhatsApp kamu mungkin akan sangat berarti untuk menguatkan kami di saat kami kelelahan. Tanyakan kabar kami dan kalau kamu merasa kami berpura-pura kuat, tolong tegur saja kami. Karena sesungguhnya kami tidak mau menjadi beban bagi siapa pun.

Jangan sungkan mengulurkan bantuan, at least tawarkan bantuan yang memang dapat kamu berikan. Tawarkan sejam untuk mungkin menjaga anak-anak supaya kami bisa menikmati pijit tanpa recokan anak-anak saja akan sangat berharga lho.

  • Kami Ingin Diterima dan Dimengerti

Apa pun penyebabnya kami menjadi single moms, kami semua pasti akan merasakan duka mendalam. Tidak ada orang yang menikah dan berharap suatu hari nanti akan berpisah.

Butuh waktu bagi kami untuk menyembuhkan luka batin ini. Masa berduka ini kadang dapat menyergap kami sewaktu-waktu. Grief comes in waves. Kadang kami perlu membicarakan perasaan kami dengan terbuka dan jujur tanpa takut dihakimi. Jadilah sahabat yang baik dan ijinkan kami untuk menuangkan rasa. Kadang kami tidak perlu solusi tapi hanya perlu didengar. Jadilah pendengar yang baik.

Jika kami memberanikan diri untuk curhat, tolong dengarkan saja. Ijinkan kami bercerita agar sesak di dada dapat terasa sedikit lebih ringan. Tidak perlu menambah bumbu yang mungkin bikin kami semakin emosi atau menyalahkan kami. We just need to be heard and understood.

Jika kami membuka perasaan anxiety kami, tolong jadi pendengar yang baik. Ingatkan kami bahwa Tuhan dan Semesta itu baik dan kami juga anak-anak kami akan baik-baik saja.

  • Jangan Bandingkan Status kami saat Suami Kamu ke Luar Kota.

Sebelum bercerai saya akui saya juga berada di posisi ini. Saya mengalami masa-masa di mana mantan suami sering traveling ke luar kota atau ke luar negri selama berminggu-minggu dan saya harus mengurus semuanya sendiri. Capek banget memang tapi ya saya tahu dia juga nanti pulang dan bisa membantu mengurus anak atau pekerjaan rumah lainnya.

Sejak jadi Ibu Tunggal, saya dulu suka sebel kalau ada teman yang mengeluhkan hal ini. Ingin rasanya saya bilang “Tapi kamu tau pasangan kamu akan pulang pada waktunya dan dia akan membantu kamu juga kan? Tidak begitu dengan status saya!!!” Sekarang saya sudah bisa mengelola perasaan kesal itu dan bilang “Welcome to my world, hanya saja yang saya lakukan 24 jam 365 hari.

Sebaiknya hindari komentar seperti ini ya.

Tujuan saya menjelaskan apa yang sering kali dirasakan Ibu Tunggal bukan untuk mencari belas kasihan. Kami tidak meminta itu. Kami hanya berharap empati masyarakat dapat semakin besar terhadap status Ibu Tunggal. Ini hanya sebagian dari perasaan-perasaan yang sering kami rasakan. Kalau kamu Ibu Tunggal apa kamu juga merasakan hal yang sama? Yuk, share dengan kami.

Share this post
Written by
Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

View all articles
Leave a reply

4 comments
  • Saya juga rasakan hal yang sama bunsay.. terlebih sekarang ini tinggal di pedesaan yang segalanya berbeda dengan kehidupanku dulu. Meskipun ini tanah leluhurku.

  • Saya baru menjalani kehidupan menjadi single mom baru 2 tahun ini karena perceraian. Semenjak setahun ini saya harus tinggal diluar kota karena pekerjaan. Sangat berat saya rasakan, tetapi dengan melihat anak2 tumbuh sehat dan baik, menjadi penyemangat bagi saya. Terima kasih adanya komunitas ini,menjadi tempat untuk berbagi dan saling menyemangati, bahwa saya tidak sendirian menjalani peran seperti ini.🙏🙏🙏

  • Untuk ke 3 kalinya saya harus merasakan hal pahit ini dan ini yang terberat buat saya entah rasa trauma masalalu yg masih mendera atau apa …yang pasti smua ini saya rasakan terlalu berat…tapi saya sadar saya tidak boleh egois ada anak yg harus saya cerahkan masa depan nya …walopun berat saya mencoba bangkit dari keterpurukan demi anak anak …i love my son

Written by Maureen

Founder

Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

SMI Podcast