Single mom adalah seorang yang single, sekaligus seorang mom. Seorang diri mengurus segala sesuatu untuk keluarga kecilnya tanpa pasangan. Penyebab tanpa pasangan bisa bermacam-macam. Salah satunya karena kematian suami.

Kematian adalah satu hal yang pasti. Suatu saat semua makhluk hidup pasti mati. Tapi walau pun demikian, kematian biasanya menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Kematian seorang suami, membuat istri menjadi amat sedih, shock karena tiba-tiba harus menjadi seorang single mom. Peran yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Menjadi single mom bukan hal yang sulit walau pun juga bukan hal yang mudah. Terbayanglah begitu banyak tugas yang harus diselesaikan sendiri. Dari mulai tentang anak, rumah, juga menjadi tulang pungggung keluarga. Semua harus diselesaikan sendiri, tidak ada lagi yang membantu. Keluarga mungkin membantu, tapi tidak setiap saat. Lalu apa yang harus dilakukan oleh single mom agar bisa berhasil dalam menjalani tugasnnya dengan baik?

Menjadi Single Mom Karena Kematian Pasangan

Single Mom Karena Kematian

Menghadapi kepergian orang terkasih

Terkejut, sedih, saat mengetahui suami terkasih meninggal adalah satu hal yang amat wajar. Karena  orang yang selalu bersama-sama dalam kehidupan, telah tiada, dan tidak akan pernah kembali. Tapi apakah kesedihan bisa menghidupkannya kembali? Tidak.

Apakah tidak boleh bersedih, tidak boleh menangis? Boleh. Tapi dengan batas waktu. Patut diingat, single mom bukan cuma seorang single, tapi juga a mom. Ada anak-anak bersama yang membutuhkan kita.

Percayalah dan yakin, segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan. Dibutuhkan rasa untuk mau dan bisa menerima semua yang terjadi tanpa merasa terbeban.

  • Menerima kenyataan bahwa suami sudah meninggal

Suami sudah tidak lagi bisa menemani, tidak ada lagi tempat curhat yang biasanya kepada suami, dan tugas menjadi bertambah, karena semua tugas yang tadinya menjadi tugas suami, menjadi tugas single mom seperti mengganti lampu yang mati, mereparasi perabot yang rusak, dan masih banyak lagi. Terima kenyataan ini tanpa menjadi merasa mendapat beban baru yang berat.

  • Menerima status single mom dengan tenang

Lingkungan kita belum semuanya menerima keberadaan single mom dengan baik. Masih saja ada orang-orang usil karena status single mom yang disandang. Terima saja dengan senyum yang tulus. Ketulusan hati akan menunjukan siapa diri kita. Fokus saja pada kehidupan yang dijalani.

  • Menerima semua perubahan yang terjadi.

Banyak hal berubah, terima saja dengan kelegaan hati. Ini llangkah awal menuju bahagia.

Single mom harus memberi pengertian kepada anak-anak, bagaimana keadaan yang sekarang dihadapi. Ada hal yang berbeda tentunya. Keluarga sudah tidak lengkap lagi karena ayah mereka sudah tidak bersama lagi dalam keluarga. Jangan biarkan anak-anak tidak mengerti kondisi yang ada. Tidak fair untuk mereka, karena mereka adalah bagian keluarga. Seringkali single mom tidak menjelaskan perubahan ini dengan alasan kasihan pada anak- anak, atau karena anak-anak masih kecil.

Banyak kasus setelah kematian sang ayah, anak yang masih kecil menangis mencarinya, memanggil-manggilnya. Ini pasti menyedihkan sekali. Biasanya lingkungan akan menanggapi dengan ucapan, “Anaknya masih kecil, tidak tahu ayahnya sudah meninggal.” Ya, lalu bagaimana caranya mereka bisa jadi  tahu? Beritahu pada anak tentang kematian, dengan kalimat yang mereka mengerti.

Sembilan tahun yang lalu, suamiku meninggal di usia 39 tahun karena kanker hati stadium lanjut yang sudah tidak bisa diobati.  Menurut dokter yang merawat, hidupnya hanya tinggal 1 tahun. Kujelaskan pada anak-anak, bahwa papa sakit kanker dan tidak ada obatnya. Kuceritakan bagaimana sakit yang dirasakan olehnya. Lalu kuceritakan pula tentang pintu surga yang diumpamakan dengan pintu Doraemon. Doraemon adalah film favorit mereka. Pintu Doraemon adalah pintu ajaib yang kalau kita buka, kita langsung berada di lokasi yang kita inginkan.

“Jadi saat papa buka pintu, papa masuk ke surga. Tapi nggak bisa kembali lagi ke sini, karena pintunya dipakai banyak orang, nggak tahu ada di mana.”

Menghadapi kematian, mereka bisa menerimanya dengan baik. Anak-anak mengikuti prosesi hingga ke pemakaman, dan berada di samping almarhum papa mereka. Kejadian ini setelah 3 minggu setelah dokter mengatakan bahwa usia suamiku masih 1 tahun lagi.

Menguatkan anak-anak  

Setelah langkah menerima keadaan yang ada, menerima status single mom, sekarang waktunya menguatkan anak-anak terkasih. Perubahan menjadi seorang anak yatim tentunya memberi cerita yang tidak terbayang sebelumnya.

Jelaskan pada anak-anak tentang arti yatim, arti janda, single mom, agar mereka tidak bingung lagi saat di luar sana orang ada yang menyebutnya anak yatim, menyebut ibunya sebagai janda, single mom. Contoh mudah di sekolah, terkadang membutuhkan data anak yatim. Tapi jangan lupa mengingatkan bahwa mereka tetap memiliki ayah. Meski pun sudah meninggal, tetaplah ayah mereka.

Untuk menguatkan anak-anak, dibutuhkan teladan yang juga kuat. Melihat kita kuat, anak-anak pun meniru kita, mencontoh dan menjadi kuat. Juga persiapkan mereka jadi lebih mandiri. Itu amat penting agar bisa kuat menghadapi perubahan.

Bangkit dari kehilangan      

Sudah menerima, sudah membimbing anak-anak untuk menghadapi kenyataan hidup dengan kuat, Jangan lupa untuk  move on, mom!

Move on itu penting, loh. Kita tidak bisa tenang dan tersenyum dalam menjalani kehidupan kalau masih saja belum move on. Come on, kematian adalah satu hal yang pasti dalam hidup. Jangan tenggelam di kehidupan masa lalu dan meratapi hidup yang saat ini dijalani.

Melepaskan adalah hal yang sulit untuk dijalani. Melepaskan hal yang kita miiliki, melepaskan sesuatu yang berharga, apalagi melepas orang terkasih dalam hidup kita. Melepaskan jadi hal yang menyakitkan.

Tidak ada yang bisa menghapus masa lalu. Masa lalu tetap ada. Tidak menghilang, juga tidak berubah. Karena masa lalu sudah dilalui. Yang dihadapi, dijalani, adalah masa sekarang. Bukan masa lalu, juga bukan masa depan.

Kematian memang menyedihkan untuk yang ditinggalkan, tapi yuk mari berpikir bahwa kematian yang dialami suami adalah hal yang membahagiakan. Ubah semuanya menjadi hal yang membahagiakan.

Bagaimana cara mengubah kenangan bersama suami tetap menjadi hal yang membahagiakan tanpa jadi menyedihkan karena terputus oleh kematian? Dan bagaimana cara mengubahnya menjadi total sebagai kenangan bahagia tanpa menghalangi kita move on? Jawabannya simple, bersyukur. Bersyukur itu berarti move on dari masa lalu.

Mensyukuri apa yang kita terima karena segala sesuatu yang terjadi adalah keputusan dari Tuhan. Apa pun yang terjadi dalam hidup adalah pemberian terbaik dan terindah dari Tuhan. Mengenang hal yang indah lebih menyenangkan dibanding bila mengenang hal yang menyedihkan, bukan?

Semua tergantung bagaimana kita memandang hidup, memandang kejadian yang ada. Pandang segala kejadian hidup sebagai hal yang bahagia, maka kita pun berbahagia. Apa yang kamu pikirkan, itu yang kamu dapat.

Menjadi tulang punggung keluarga    

Single mom otomatis menjadi penopang keluarga sebagai pencari nafkah, tulang punggung keluarga, apalagi karena anak-anak pun belum bekerja. Setelah suami meninggal, harus mencari pekerjaan agar bisa mencukupi biaya kebutuhan. Biaya pendidikan, kebutuhan rumah, makan, dan semuanya. Untuk mom yang sejak dulu bekerja, memiliki usaha, mungkin tidak terlalu shock. Tapi mom yang ibu rumah tangga, saat awal menghadapi ini, menjadi bingung, panik, karena tidak memiliki penghasilan. Orang tua, atau saudara bisa saja membantu. Tapi bukan untuk selamanya, kan? Tenangkan diri, jangan panik. Ini saatnya menggali potensi diri, Hobi bisa dijadikan peluang bisnis, kemampuan yang dimiliki bisa jadi alat pencari nafkah. 

Bagi yang memiliki hobi menjahit, atau bisa menjahit, bisa buka usaha terima jahitan, atau mengembangkan potensi membuat boneka. Hobi memasak, bisa berjualan masakan matang, catering rumahan. Atau berniat bekerja? Keluarkan ijazah yang lama mendekam di lemari.

Jangan memandang menjadi tulang punggung keluarga adalah beban. Bukankah sejak dulu banyak perempuan menjadi pencari nafkah? Bukan hanya single mom yang bekerja menjadi pencari nafkah. Yang memiliki pasangan pun bekerja, kok.

Berbahagialah.  Menjadi tulang punggung bagi keluarga adalah kebahagiaan. Segala sesuatu jika dikerjakan dengan suka cita tidaklah berat.

Penghasilan kecil? Uang tidak mencukupi untuk biaya sebulan? Ssshh, tenang saja, ada Tuhan yang Luar Biasa, Maha Kaya. Berusaha, berdoa. Tidak mungkin tidak dicukupi.

Masih belum cukup juga? Berusaha maksimal itu wajib, tapi ingat, Tuhan yang memutuskan segalanya. Rejeki tidak akan pernah salah alamat.

Jadi single mom yang bahagia, amin.

Ditulis oleh Nitaninit Kasapink

The following two tabs change content below.

Kontributor

Kontributor adalah penyumbang tulisan di blog Single Moms Indonesia yang bersifat rahasia. Mau menyumbang tulisan? Hubungi kami.

Latest posts by Kontributor (see all)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *