fbpx
  • Search
  • Lost Password?

Kesehatan Mental Ibu Tunggal

Share this post

Kesehatan Mental Ibu Tunggal

Kesehatan Mental Ibu Tunggal

There is no health without mental health, jargon yang langsung menyambut saya saat mengunjungi situs World Federation for Mental Health. Adalah WFMH yang mencetuskan 10 Oktober sebagai Mental Health Day atau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Dilansir dari situs yang sama, WFMH mengemban misi untuk mengampanyekan dan mendidik masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental atau kesehatan jiwa.

Menjalani peran sebagai ibu tunggal selama tiga tahun terakhir membuat saya tertarik untuk mempelajari tentang kesehatan mental. Perlahan saya menambah referensi dengan membaca buku, menonton film bertema isu-isu kesehatan mental, menghadiri kelas-kelas online dan berdiskusi dengan teman-teman. Jika sebelumnya akun yang saya ikuti di sosial media didominasi oleh selebriti dan toko-toko online, kini ketertarikan saya mulai mengerucut pada influencer yang rajin menyerukan tentang mindfulness atau psikolog dan komunitas yang berkecimpung pada kesehatan mental. Mengapa?

Berangkat dari latar belakang perpisahan yang penuh drama, tak dipungkiri ada luka yang terasa. Sebanyak apa? Sedalam mana? Bagaimana menyembuhkannya? Tak satupun saya tahu jawabannya. Satu yang saya tahu pasti, tubuh saya berusaha memberi tahu bahwa ada yang harus diobati. Tidur di malam hari jadi hal yang sulit sekali, nafsu makan serta merta menghilang, berinteraksi dengan manusia lain jadi terasa begitu menakutkan, poros dan nilai-nilai kehidupan tak ada lagi yang berharga. Masih teringat hari saat hati membisikkan untuk menyudahi hidup ini. Iya, saya pernah serendah itu.

Menjadi ibu adalah bayangan indah yang selalu saya impikan sejak remaja. Tapi tahun pertama menjadi ibu tunggal saya kehilangan arah bagaimana menjalankan peran menjadi ibu. Keseharian tetap dijalankan tanpa penuh kesadaran, bak robot yang hanya menjalankan tugas sesuai program. Ibu robot yang seringkali korslet karena melampiaskan kekecewaan, frustasi dan sakit hati pada anaknya. Masih teringat dengan jelas beberapa kejadian yang membuat saya merasa bersalah pada anak saya karena menjadikannya tempat pembuangan emosi yang tak terkendali. Tak bisa dibiarkan terus begini, batin saya.

Suatu hari secara tak sengaja saya membaca artikel tentang kesehatan jiwa, langkah pertama yang bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki isu ini adalah dengan menyadari dan mengakui bahwa jiwanya tidak sehat, terluka. Saya tidak sehat. Lalu sebaiknya memberi tahu orang terdekat tentang keadaan yang sedang dialami meski tidak secara rinci. Tapi malu rasanya jika harus bilang bahwa saya ada isu kejiwaan, mental saya tidak sehat. Bisa-bisa dicap sebagai manusia gagal nantinya. Cukup lama pikiran saya berkecamuk memikirkan apa kata orang. Hingga akhirnya saya memberanikan diri bercerita pada seorang kawan bahwa saya membutuhkan pertolongan, saya tidak sehat dan tidak tahu bagaimana menyembuhkannya. Alih-alih mendapat simpati atau empati, saya mendapat sindiran dan ejekan. Tak ingin menyalahkan atau mencoba menarik kesimpulan sepihak, namun setelah berjarak saya bisa melihat ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan hal tersebut. Saya ingat sikap dan tingkah laku saya kala itu seperti manusia paling menderita di dunia, bisa jadi itu mengganggu atau menyebabkan teman saya bersikap begitu.

Seperti disebutkan sebelumnya, saya coba menambah referensi guna membantu saya menelaah isu kesehatan jiwa yang saya alami. Bukan perjalanan yang singkat dan mudah, jujur saja. Berkali-kali saya menghindar dan membohongi diri, setelah beberapa saat saya pikir sudah sehat dan baik-baik saja, tapi kehidupan masih tak bosan memberi kejutan yang membuat saya jatuh lagi. Tapi satu yang kini saya pahami, tidak ada yang mampu menyembuhkan jiwa saya selain saya. Dan memiliki keadaan mental yang sehat adalah syarat utama untuk menjadi pribadi yang baik, baru kemudian saya bisa menjadi ibu yang baik, serta peran-peran lain yang saya emban di kehidupan ini.

Tak saya pungkiri bahwa menjadi ibu tunggal itu tidak mudah, harus berdiri di atas kaki sendiri secara finansial, menjalankan bermacam peran secara individual, belum lagi bersinggungan dengan stigma di kehidupan sosial. Tak semua harus saya pikirkan dengan porsi yang sama, saya belajar untuk membagi perhatian dan pikiran pada hal-hal yang esensial. Saya manusia, kodrat saya adalah hidup dan belajar dari kehidupan. Manusia lahir, sehat, sakit, tumbuh, berkembang lalu mati, semuanya akan dialami.

Hingga hari saya menuliskan ini saya masih memiliki isu kesehatan jiwa. Sudah tidak separah dulu tapi masih ada yang perlu dibenahi. Dan di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini, saya ingin berkata pada seluruh ibu tunggal bahwa sakit jiwa itu nyata adanya meski tak kasat mata. Tak perlu malu untuk mengakui karena itu adalah bukti bahwa kita menyayangi diri sendiri. Dan semoga dengan menambah ilmu atau mendapat bantuan demi kesehatan mental kita bersama, kita dapat menjalankan peran sebagai ibu tunggal dengan sebaik-baiknya.  

Tentang Penulis: Dega, ibu tunggal yang berdomisili di Jakarta. Berprofesi sebagai pengajar bahasa Prancis di sebuah Sekolah Swasta. Membaca dan menulis bagian dari kesehariannya. Follow Instagram Dega: https://www.instagram.com/degayanti/

Share this post
Written by
Kontributor

Kontributor adalah kontributor tulisan di blog Single Moms Indonesia. Mau menyumbang tulisan? Hubungi kami ya.

View all articles
Leave a reply

2 comments
  • Hanya bisa menangis membaca ulasan diatas… krn skrg saya sedang di posisi itu.. dan saya sangat merasa tersiksa.. saya sadar.. saya harus bangkit dr keterpurukan saya.. tp prakteknya ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan dan saya tidak tahu harus memulai dari mana.. krn luka ini terasa sangat dalam.. dan tidak tahu harus dengan siapa membagi cerita ini..

  • Tidak ada yang mau menjadi single parents, tapi mau gmn lagi????
    Dari pada menahan rasa sakit dlm hidup berumah tangga, cacian, di pandang rendah menyandang status janda, di tuduh wanita gatel.
    Yakin suatu saat aku bisa sukses dalam menggapai mimpi buat kebahagiaan anak2 ku dan orang tuaku

Written by Kontributor

Founder

Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

SMI Podcast

Supported & Recognized by

Facebook