• Search
  • Lost Password?

Keluarga Kepo di Hari Lebaran?

Share this post

Hayo… bagaimana menjawab pertanyaan yang modusnya kepo?

Wah… langsingan ya… apa resepnya?

Iiih… kamu kok sekarang ubanan. Coba deh pakai krim ini itu bla bla… siapa tahu rambutmu jadi hitam lagi.

Ya ampun kamu sekarang makmur ya. Berapa berat badanmu sekarang?

Siapa yang dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Bagi kita para single moms, pertanyaan akan makin variatif dan “seru”.

Kok masih betah sendiri?

Nggak pengen menikah lagi? Jangan terlalu pilih-pilihlah….

Nggak kasihan anakmu nggak ada ayahnya?

Dulu… kamu bercerai kenapa, sih?

Dan sekarang ini, saat hari besar di depan mata… kumpul-kumpul keluarga akan banyak terjadi. Yang artinya… akan banyak pertanyaan.

Apakah moms sudah siap?

Konon… pertanyaan-pertanyaan kepo itu memang “ciri khas” sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka yang berpikiran positif, bisa dengan mudah menghalau gelisah dan menenangkan diri lewat asumsi bahwa pertanyaan itu adalah bukti perhatian dari yang menanya. Memang, beda tipis antara peduli dengan kepo…. Apakah pertanyaan itu bagian dari rasa akrab yang demikian besar, atau kepedulian yang tinggi… rasanya perlu dicermati lebih lanjut. Karena seringkali, alih-alih menunjukkan simpati atau empati, pertanyaan kepo justru berkesan memojokkan. Misalnya ketika dibilang berat badan naik. Kalaupun gendutan, memang dosa? Atau… soal rambut putih… uban ini kan memang sengaja nggak dicat supaya tampak mature. Hmm… sabar sajalah….

Saat sedang sabar, jawaban standard untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa beragam. Untuk yang tanya “kapan kawin”, bisa segera disambut dengan, “Mohon doanya saja ya.” Tapi kalau sedang tidak sabar? Rasanya pengen sobek-sobek mulut yang tanya….

Tahukah moms… ada beberapa alasan orang-orang mengajukan pertanyaan kepo. Dalam situs PsychCentral, disebutkan bahwa memang ada orang yang sangat gatal mengurusi hal-hal yang sifatnya pribadi di diri orang lain. Orang yang demikian, biasanya cenderung narsistik,  manipulatif, dan punya kesadaran diri yang rendah. Imbasnya, dia menganggap orang di sekitarnya tidak penting, sehingga dia berlaku (dan bertanya) seenaknya saja yang cenderung menempatkan orang yang ditanya menjadi tidak berharga. Tanpa dia sadar, sikapnya disetir oleh kemauan untuk narsis, hingga ia masuk ranah bully dengan me. Nah…

Ini mungkin ada benarnya. Dari pengalaman, ada seorang tante yang selalu bertanya “Suamimu mana?” begitu melihat saya. Mustahil dia tidak tahu saya sudah bercerai 13 tahun silam. Ternyata memang pertanyaan itu semacam kunci pembuka untuknya menceritakan tentang anak-anaknya yang sukses dalam pernikahan dan karier. Sebelum saya sempat buka mulut menanggapi pertanyaannya, si tante akan melanjutkan pertanyaan dengan beragam pernyataan soal anaknya sendiri macam “Sekarang sudah eselon 2 lho” dan juga “Suaminya baiiiiik sekali. Kemarin Isye dioleh-olehi Louis Vuitton dari Prancis!

Dasar narsis!

Bagaimana pun, moms, kita tidak bisa mengatur sikap orang lain terhadap kita, kan? Yang bisa kita atur adalah reaksi kita terhadap sikap orang tersebut.

Jadi, bagaimana menghadapi para penanya kepo? Jawabannya, tergantung mood. Jika mood sedang bagus, boleh saja dijawab serius dengan argumentasi lengkap dari segala sisi, kalau perlu mengutip jurnal akademik.

Petanyaan “Kok belum menikah lagi?” bisa dijawab dengan, “Menurut psikolog, trauma perceraian sulit diatasi. Jadi harus perlahan-lahan berdamai dengan diri sendiri sebelum bisa membuka hati untuk cinta yang baru.” Silakan dilanjutkan dengan mengutip artikel apa saja dari mana pun, misalnya dengan menyebutkan sejumlah istilah yang terdengar asing agar nampak penting. Semakin  panjang, semakin membosankan, akan semakin baik. Kalau perlu, mengarang saja juga boleh. Dijamin si penanya akan kapok bertanya lagi.

Terkadang, dengan menjawab seperti ini, kita juga jadi tahu kalau si penanya sebenernya cuma basa basi saja….  Dijawab kok malah melengos. Huh.

Kalau sedang iseng, banyak sekali jawaban untuk pertanyaan “kapan menikah.” Yang paling sering saya pakai adalah, “Hari Minggu deh, kalau nggak kesiangan bangun.” Moms bebas mau jawab apa saja. Namanya juga iseng.

Pada akhirnya, sebetulnya jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan kepo itu nggak penting, kok. Apa pun pertanyaannya (dan apa pun jawabannya) setelahnya, kita kan harus tetap menjalani hidup seperti biasa. Kita kesal atau marah, jadi sia-sia karena kita justru menambah energi negatif masuk ke dalam diri kita.

Jadi mom… kalau ada yang tanya-tanya kepo… cuek aja. Tidak perlu emosi, jawab seadanya… kalau mau. Kalau tidak mau jawab? Kibas rambut saja… lalu  bilang, “Bhaaaaay!!!

Share this post
Written by
Budiana

Content Partner, b/ndL Studios. Tinggal di Tangerang Selatan

View all articles
Leave a reply

Written by Budiana

Founder

Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

SMI Podcast