fbpx
  • Search
  • Lost Password?

It’s OK to NOT be OK!

Share this post

Dari pertama berdirinya SMI 6 tahun yang lalu, saya nggak pernah ngeluarin kalimat “Nggak boleh nangis!

Justru sebaliknya, kalau ada member yang nangis ya sudah saya persilakan untuk menangis sepuasnya.

It’s OK to NOT be OK!

Hidup sebagai perempuan di negeri ini beban emosionalnya berat lho. Dari kecil perempuan Indonesia itu diberikan wejangan perempuan harus begini, nggak boleh begitu. Terima kasih patriarki! Ditempa dengan ‘pesan-pesan sponsors’ seperti itu dari kecil apa lah jadinya setelah dewasa?

Saya juga melalui fase-fase itu kok. Saya sadar betul saya nggak bisa maksain apa yang berhasil saya lakukan ke orang lain. What works for me might not even work for you. Perjalanan menyembuhkan luka batin ini lagi-lagi sangat personal. Nggak ada tuh namanya 7 jurus jitu yang menjamin hati yang hancur lebur bisa utuh lagi.

Semua butuh yang namanya proses.

Nah, kalau di SMI saya dan para Mimos (Admin Moms) suka bilang kalau mau nangis ya nangis aja. Nggak papa. Nggak salah. Apa pun perasaan yang dirasakan members adalah valid. Your feelings matter! Itu prinsip kami di SMI.

Sampai pernah dituding mantan member, yes, mantan member karena orangnya keluar setelah mengamuk dan mencaci-maki SMI sebagai komunitas yang menurut kacamata beliau melemahkan perempuan hanya karena kami mempersilakan salah seorang member yang waktu itu lagi curhat untuk menangis kalau emang itu ingin dia lakukan (si Ibu curhat bilang pengen nangis).

Hal ini terjadi beberapa bulan lalu.

Reaksi awal saya? Murka besar! Ya iya lah, SMI itu ibarat ‘bayi’ saya, buah hati yang saya rawat dibantu teman-teman relawan trus dicaci maki seperti itu bikin saya emosi tingkat dewa. Rasanya pengen saya gampar. Tapi lagi-lagi, saya harus tarik napas dalam-dalam. Saya sadar nggak semua orang akan merasa sejalan dengan SMI and that’s ok.

Inhale…exhale…

Saya jawab bahwa kalau pandangan beliau seperti itu tandanya beliau kurang cukup intim mengenali apa yang kami lakukan selama ini di SMI. Belum cukup kenal kultur budaya yang kami usung. Nggak dijawab, wong keburu keluar group WhatsApp orangnya. Hahahaha biarkan lah…mungkin beliau merasa cara tough love beliau lebih tepat. Ya, silakan saja.

Enam tahun lebih sedikit mengelola SMI dari anggotanya 3 orang sampai sekarang 4,200 lebih…saya sadar betul setiap anggota itu punya ceritanya sendiri, punya rasa yang walau pun mungkin memiliki kesamaan dengan yang lain tapi belum tentu serupa bentuknya. Bayangkan dari ribuan Ibu Tunggal itu pasti ada banyak sekali kisah-kisah yang untuk orang luar mungkin rasanya mustahil, tapi nyata.

Their struggles are real!

Siapa lah kami untuk mengecilkan pengalaman (experience) wanita lain dalam kondisi emosi yang awut-awutan atau kacau? Mereka berhak akan semua rasa, emosi dan kedukaannya masing-masing.

Itu lah makanya kenapa saya termasuk sangat bawel untuk urusan ‘no-judgement’…karena sesungguhnya status kami sendiri di mata masyarakat sudah sering jadi bulan-bulanan. Mulai dari dipakai sebagai marketing gimmick sampai jadi judul lagu atau jadi trending topik di Twitter. Rumah aman impian saya yang bernama SMI itu adalah safe space, tempat aman untuk semua Ibu Tunggal nggak mandang latar belakang suku, ras dan agama apalagi bagaimana mereka jadi single mom. Nah, gimana mau rumahnya aman kalau saya nggak seperti iklan terus-terusan mengingatkan sesama anggota supaya berkomentar dengan empati. Nggak pake ngotot dan menghakimi.

Dibutuhkan kelegaan hati untuk berempati tinggi tapi saya masih percaya empati itu seperti otot, harus terus dilatih supaya kuat.

Tough love memang kadang diperlukan tapi ada tempatnya untuk itu. Buat saya jauh lebih penting untuk memberikan ruang bagi semua anggota untuk bisa jujur dengan perasaannya sendiri. Harapannya, dengan waktu, dengan banyak belajar dari sesama members lain, mereka juga bisa berproses dalam menyembuhkan luka batin.

Kalau dipikir-pikir dulu saya dan beberapa sahabat ‘seangkatan’ saya yang lebih dulu jadi single moms nggak punya lho yang namanya komunitas. Boro-boro program pemberdayaan, lah temen curhat aja jarang banget yang bisa relate kok. Kami dulu harus berjuang sendiri, nyari cara sendiri gimana untuk bisa bertahan, gimana bisa sembuhin diri, gimana menata hidup.

Sekarang sumber dayanya banyak banget di media sosial. Kesehatan mental sampai bagaimana menyembuhkan luka inner child. 10 tahun lalu, belum semudah itu, kawans!

Inti tulisan ini sebenernya apa sih? Ya, saya cuma mau bilang, it’s OK not to be OK!

Kamu nggak diwajibkan untuk selalu tampil kuat kok. Kalau lelah dan mau nangis boleh kok nangis. Yang penting habis nangis kita lanjutkan lagi perjuangan ini.

Saya aja masih suka nangis kok kalo capek. Saya sadar penuh kalau saya juga nggak bisa kuat terus-terusan. Ada masanya saya nangis diem-diem di bantal atau sambil nulis di buku journal. Tapi paling nggak dengan mengeluarkan frustrasi, emosi terpendam lewat air mata biasanya saya merasa lebih lega. Siap untuk berdiri kokoh lagi.

Peluk untuk kamu para Ibu Tunggal di luar sana yang baca tulisan ini. I understand your pain and it’s ok if you want to cry. Yakin, semua akan baik-baik saja nanti.

Share this post
Written by
Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

View all articles
Leave a reply

3 comments
  • Pagi….mohon info tentang program yang telah ada di SMI. Apakah di cabang Surabaya ada base camp atau pic yang dapat saya hubungi agar dapat jaringan dalam berwirausaha . Terima kasih. Sufiyatni

  • Saya ingat salah satu pelajaran anak saya waktu di TK, ttg emosi. Ada berbagai macam jenis emosi dan semuanya muncul untuk dirasakan bukan untuk diabaikan. Duh, anak saya yg belajar tapi saya yg merasa tertampar. 😂

Written by Maureen

Founder

Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

SMI Podcast

Supported & Recognized by

Facebook