• Search
  • Lost Password?

Dear Single Moms Indonesia

Dear Single Moms,

Saya mengerti bagaimana hancurnya hatimu ketika pernikahan berakhir dengan perpisahan. Tidak ada orang yang menikah dan berharap akan bercerai nantinya.

Saya mengenali rasa sakit dibalik kalimat-kalimatmu karena saya pernah berada di posisi itu.

Gejolak amarah karena penghianatan itu bisa saya rasakan karena saya juga melalui fase tersebut.

Merasa menjadi korban keadaan, merasa dibohongi, merasa tersiakan. Semua rasa campur aduk jadi satu dan tidak ada rasa yang enak di dalamnya.

Wajar…

Sewajar itu memang fase yang harus kita lalui pasca perpisahan.

Tidak ada obat mujarab di luar sana yang khasiatnya dapat mengobati luka di dalam lubuk hati terdalam kita. Seandainya ada, pasti penemunya sudah jadi orang paling kaya raya di dunia ini.

Tidak ada juga cara yang one size fits all dalam proses menyembuhkan patah hati ini. Proses healing tidak seperti beli baju di toko.

Perjalanan untuk pulih ini sangat sangat pribadi sifatnya. Ada yang dalam waktu singkat dapat bangkit dan menciptakan kehidupan baru bagi dirinya dan anak-anaknya dengan bahagia. Ada juga yang masih menyeret bagasi penuh amarah bahkan belasan tahun kemudian.

Dulu saya pun merasakan sendiri betapa tidak nikmatnya proses healing itu. Babak belur rasanya seperti di dalam ring tinju bikin saya nyaris menyerah jika tidak ingat ada anak yang sangat membutuhkan Ibunya.

Yang paling berat dari proses memulihkan hati dan jiwa itu? Saat harus berani jujur pada diri sendiri. Saat saya menyadari saya juga punya peran dalam kandasnya rumah tangga. Saat saya harus secara berani mengakui kesalahan saya, saat akhirnya menyadari (tanpa menghukum diri sendiri ya, Moms) hal-hal yang saya lakukan dulu juga banyak yang salah.

Proses itu membawa saya ke titik sadar bahwa penghianatan hanya efek samping dari hubungan yang sebetulnya sudah tidak lagi baik bagi semuanya. Kata orang it takes two to tango kan? Begitu juga dengan urusan rumah tangga. Perlu dua orang yang sama-sama berkomitmen untuk membuatnya bertahan dan butuh dua orang juga untuk sama-sama menghancurkannya apa pun alasannya.

Kata orang, di saat kita menudingkan jari pada orang lain, ada 4 jari lain yang menunjuk pada diri kita sendiri. Tapi di saat masih berdarah-darah, kita merasa butuh orang lain untuk disalahkan. Amarah itu perlu sasaran tembak.

Mengucapkan “Aku memaafkanmu” lebih mudah daripada proses internal yang butuh keberanian juga kejujuran pamungkas. Pergolakan batin itu sangat nyata karena butuh kesadaran utuh untuk bisa sampai di titik mengakui “Aku pun punya salah.” Proses menundukkan ego ini emang nggak gampang. Beraaaat, kawan! Tapi tidak mustahil.

Butuh waktu lama bagi saya sendiri untuk melalui fase-fase di atas itu jadi saya mengerti bagaimana kalian yang baru-baru saja kehilangan masih butuh waktu untuk berproses.

Bersabar ya…

Jangan menyerah atau tenggelam dan menganggap dirimu adalah korban. Kamu bukan korban kok! Kamu hanya butuh waktu dan usaha untuk menyelesaikan proses healingmu.

Dear Single Moms,

I feel your pain. Tapi percaya lah, kita akan sanggup melewati semua ini. Pandangi wajah anak-anak kita yang perlu Ibunya bahagia. Mereka tidak butuh ibu yang kuat karena mereka tau kita sudah kuat, tapi mereka ingin kita bahagia. Dan seperti pesan sponsor di SMI, Happy Moms = Happy Kids.

Terkirim peluk dan doa untuk semua sahabat di Single Moms Indonesia.

Written by
Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

View all articles
Leave a reply

Invalid OAuth access token.
Written by Maureen

Instagram

Invalid OAuth access token.

SMI Podcast