fbpx
  • Search
  • Lost Password?

Berdaya Atau Tidak, Kita Yang Tentukan

Share this post

Berdaya Atau Tidak, Kita Yang Tentukan

Perceraian memang merupakan momok yang menakutkan bagi siapa saja khususnya perempuan.

Kita telah terlanjur terbentuk oleh paham, bahwa kita ditakdirkan untuk hidup dengan menjalani siklus sebagai berikut;

Dilahirkan sebagai anak, tumbuh berkembang dalam pengasuhan orang tua dan keluarga, bersekolah, bekerja, menikah, punya anak, lalu meninggal.

Itu seakan sudah menjadi pakem wajib bagi kehidupan seorang perempuan. Jadi ketika ada salah satu aspek yang tidak dapat kita penuhi, maka kita akan dianggap gagal dalam menjalani kehidupan ini.

Tapi apakah benar demikian?

Apakah dengan bercerai maka kita telah melanggar aturan yang telah dibuat?

Jawabannya bisa ya bisa juga tidak.

Ya, karena memang benar bahwa kita telah melanggar aturan tersebut. Aturan yang telah dibuat dalam dunia mereka.

Saya ulangi sekali lagi, dalam dunia mereka.

Mereka siapa? Ya mereka yang membuat pakem tersebut. Mereka yang akan dengan mudah menghakimi orang – orang yang tidak mengikuti pakem yang telah mereka buat.

Apa mereka salah? Mereka tidak salah. Mereka hanya meyakini apa yang menurut mereka benar. 

Lalu kita?

Jawaban tidak adalah untuk kita, orang – orang yang sadar bahwa memang kita telah melanggar pakem tersebut. Melanggar pakem yang dibuat di dunia lain yang bukan dunia kita.

Ya, untuk bisa bertahan dalam kehidupan ini kita harus menciptakan dunia baru. Dunia kita sendiri .

Dunia yang berisikan semua pemikiran – pemikiran kita, semua aturan – aturan kita. Semua hal yang menurut kita benar tanpa harus menyakiti orang lain.

Apakah itu berarti kita melawan arus? Tentu saja tidak.

Bayangkan kita adalah selembar daun yang terjatuh dari ranting pohon, lalu terbawa aliran sungai dari hulu menuju hilir.

Bagaimana cara kita melawan dengan berenang berbalik arah dari hilir menuju hulu?

Apakah bisa? Tentu tidak. Seberapa keras pun diusahakan tetap tidak akan bisa, jadi buat apa kita menderita?

Kita bisa tetap berjalan melalui arus sungai tersebut tanpa menempel dengan daun – daun yang lain.

Tentu kita bukanlah satu – satunya daun yang terjatuh dari ranting pohon itu bukan?

Biarkan mereka dengan pemikiran mereka, kita tidak perlu melawan, kita tidak perlu adu argumen.

Mereka bilang jadi janda itu tidak baik, jadi orang tua tunggal itu tidak benar, membesarkan anak tanpa pasangan itu sungguh tercela.

Baik, itu kata mereka. Biarkan saja. Hargai dan hormati pandangan mereka. Tidak ada gunanya didebat, karena sebagaimana mereka yakin dengan keyakinan mereka, maka sebegitu pula kita harusnya yakin akan pemikiran kita.

Melakukan perdebatan hanya akan membuang – buang energi karena pada hakikatnya di dunia ini akan selalu ada dua hal yang berdampingan, yaitu pro dan kontra. 

Ada yang setuju ada yang tidak setuju. Itulah dualitas dunia. Terima saja dengan damai.

Kita tentu tidak akan berpikiran sempit. Menjadi Janda, Orang tua tunggal atau apapun itu adalah pilihan hidup kita yang sudah barang tentu kita tahu akan menimbulkan kontroversi.

Tapi saya menjadi orang tua tunggal bukan karena keinginan saya! Saya adalah korban..

Nah, disinilah kita akan diberikan pertanyaan besar oleh kehidupan ini: Mana yang akan kita pilih?

Terus – terusan merasa menjadi korban atau bangkit menerima keadaan lalu memikirkan langkah selanjutnya untuk melanjutkan hidup?

Saya merasa ini bukan salah saya! Apa yang terjadi pada hidup saya saat ini adalah karena perbuatan orang lain bukan karena keinginan saya sendiri! 

Baik, coba renungkan ini;

Bahkan kelahiran kita ke dunia ini pun juga merupakan hasil ‘perbuatan’ orang lain. Yaitu orang tua kita. Ayah dan Ibu kita. 

Lalu bagaimana kita bisa mengharapkan kehidupan kita selanjutnya akan luput dari hasil perbuatan orang lain?

Sampai kapan kita akan menyalahkan orang lain atas kehidupan yang saat ini kita jalani?

Semua adalah pilihan kita, memang benar demikian adanya, Saya bisa berbicara seperti itu karena saya mengalaminya. 

Delapan tahun yang lalu, tahun 2012 saya merasa hidup saya hancur. Impian untuk memiliki rumah tangga bersama orang yang saya cintai yang telah memberikan saya seorang anak laki – laki hancur berkeping – keping.

Saya marah pada kehidupan ini. Saya merasa kehidupan ini tidak adil. Saya bahkan berniat untuk mengakhiri hidup saya saat itu juga!

Namun entah kenapa, pada saat itu saya memiliki sekian detik waktu berfikir. 

Saya bertanya seperti ini pada diri saya, “Kamu maunya apa?

Saya pun menjawab, saya mau menjadi pribadi yang kuat, bukan yang lemah seperti ini.

Dan terjadilah percakapan antara saya dengan diri saya sendiri. Diri saya yang selalu saya abaikan. Diri saya yang selalu menyampaikan kebenaran namun selalu saya elakkan.

Diri saya yang sebenarnya memiliki dunia yang menawarkan saya begitu banyak kebahagiaan namun tidak pernah saya beri kesempatan karena saya sibuk untuk memenuhi standar dari dunia lain yang bahkan tidak saya kenal.

Dan inilah langkah paling ampuh dalam penyelamatan hidup saya. 

Berbicara pada diri saya sendiri.

Ya, itu adalah cara pertama saya bisa bangkit dari situasi saya. 

Saya berdiskusi dengan diri saya sendiri. Karena satu – satunya orang di dunia ini yang paling mengerti dan memahami saya adalah, diri saya sendiri!

“Orang bilang waktu akan menyembuhkan semua kepedihan dan luka hati. Tidak! Bukan waktu, tapi diri kitalah yang akan menyembuhkan segala luka dan kepedihan yang kita rasakan.”

Bila kita masih belum mengambil keputusan untuk mengakhiri bara api yang bercokol dalam hati kita, maka waktu berapa lama pun tidak akan sanggup menyembuhkan rasa sakit yang kita rasakan.

Jadi semua ada di tangan kita. Kita yang memiliki hak untuk menentukan pilihan.

Pilihan membuat kita akan dapat menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan yang ada.

Dalam situasi saya, anak saya berada dalam pengasuhan ayahnya, tentu dibantu dengan anggota keluarga mereka yang lain.

Banyak orang mengatakan bahwa saya seharusnya merebut anak saya. Bagaimana mungkin saya bisa membiarkan anak saya berada jauh dari saya? Bagaimana bila mereka menyodorkan pemikiran – pemikiran yang tidak benar tentang saya kepada anak saya?

Bagaimana bila nantinya anak saya akan melupakan saya? Bagaimana bila nanti anak saya tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dari apa yang saya harapkan? 

Ketakutan – ketakutan itu, yang bila saya turuti berarti saya mengikuti aturan dunia mereka. Bukan aturan dunia saya sendiri. Karena dalam dunia saya sendiri, saya menuliskan bahwa tidak boleh ada kebencian. Yang ada hanya kedamaian.

Maka saya membiarkan anak saya berada dalam pengasuhan keluarga ayahnya. Memangnya kenapa? Anak saya bisa lahir karena andil ayahnya juga, dan bila dengan mengikatkan diri terlalu erat pada anak saya hanya akan menyebabkan penderitaan pada diri saya, maka lebih baik saya lepaskan.

Bukankah Kahlil Gibran juga menuliskan bahwa Anakmu bukanlah milikmu? Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau?

Jadi pilihan saya adalah, saya membiarkan anak saya berada dalam pengasuhan keluarga ayahnya. Biar saja dia di sana, saya akan menengoknya sewaktu – waktu. 

Bahkan ketika saya tidak diberikan ijin untuk menengok anak saya pun saya melampiaskannya pada diri saya sendiri. Saya marah, saya menangis, saya merutuk, saya menumpahkan semua perasaan saya pada diri saya sendiri.

Mengapa pada diri saya sendiri? Karena pernah saya berada dalam fase dimana saya bercerita dan menumpahkan isi hati saya pada orang – orang disekitar saya, saya membuat aneka status galau di Facebook hingga semua orang, bahkan yang tidak kenal secara pribadi dengan saya sekalipun akan mengetahui permasalahan saya. Waktu itu saya menggiring opini seolah – olah saya ini korban. Oh, kasihanilah saya, saya ini ibu yang dipisahkan dari anaknya.

Lalu apakah itu membuat saya bahagia dan merasakan kedamaian? Tidak sama sekali!

Dengan bercerita kepada orang lain, yang saya dapat justru intimidasi. Mereka ‘mengompori’ saya. Mereka menakuti saya. Mereka tidak peduli dengan perasaan saya. Yang mereka pedulikan hanyalah, mereka jadi punya bahan cerita untuk digunjingkan di belakang saya.

Pun dengan membiarkan seluruh dunia tahu mengenai permasalahan saya lewat Facebook, saya bukannya tenang. Saya justru menjadi sasaran laki – laki iseng yang terus saja mengirimi saya pesan karena saya yang ‘memberikan pengumuman’ bahwa saya adalah seorang wanita yang telah bercerai dari pasangannya!

Dan begitulah, diri saya sendiri memberikan saya pilihan : Mau berdaya atau tidak berdaya?

Dan tentu saya lebih memilih untuk berdaya!

Saya terima situasi saya. Dipisahkan dengan anak? Tidak apa – apa, saya bisa memanfaatkan jeda waktu perpisahan itu untuk mengisi diri saya. 

Tapi apa tidak takut kalau akan berpisah selamanya dengan anak?

Tentu tidak, karena saya memilih untuk percaya pada diri saya sendiri. Saya pasti akan bertemu lagi dengan anak saya. Bagaimanapun caranya. Biar Tuhan yang atur. Saya tinggal percaya saja, pada Tuhan dan pada diri saya sendiri. 

Selama empat tahun saya memilih untuk percaya pada diri saya sendiri dan hasilnya? Mulai penghujung tahun 2016 hingga saat ini, anak saya bisa dengan rutin menginap di rumah saya selama akhir pekan atau liburan sekolah.

Bahkan kini berkat adanya pandemi, anak saya kadang tinggal lebih lama dengan saya, kadang seminggu atau dua minggu.

Dan hubungan saya dengan mantan suami berikut dengan keluarganya perlahan membaik. Saya tidak tahu bagaimana, tapi ya, hubungan kami membaik.

Semua yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin, karena saya mengambil satu pilihan dalam hidup saya. Hanya satu. Yaitu pilihan untuk berdaya dan memiliki akal serta cara untuk mengatasi sesuatu.

Saya memilih untuk  keluar dari dunia yang tidak memberikan saya ruang untuk bertumbuh.

Saya hanya akan mendiami dunia yang berisi pilihan – pilihan yang telah saya buat.. Dunia baru yang membahagiakan saya secara sempurna.

Nah, yang mana pilihanmu?

Artikel ini ditulis oleh: Saftri Saraswati

 

Share this post
Written by
Kontributor

Kontributor adalah kontributor tulisan di blog Single Moms Indonesia. Mau menyumbang tulisan? Hubungi kami ya.

View all articles
Leave a reply

1 comment
Written by Kontributor

Founder

Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

SMI Podcast

Supported & Recognized by

Facebook