fbpx
  • Search
  • Lost Password?

Apa Menikah Lagi Jadi Solusi?

Share this post

Tulisan ini lahir dari keprihatinan saya melihat masih banyak Ibu Tunggal di luar sana yang berharap bahwa menikah lagi akan menyelesaikan semua problema juga beban hidup sebagai pejuang keluarga.

Sigh…

Menikah lagi ketika secara emosional juga spiritual belum siap sebenarnya sama aja seperti menggunakan orang lain sebagai ‘plester luka’ atau ‘tambal sulam’. Iya kalau plesternya top punya mungkin bisa sembuh total lah kalau asal-asalan paling nggak lama bakalan ambrol.

Hasil studi di Amerika saja bilang divorce rate (angka perceraian) pernikahan kedua itu presentasenya di atas 67%! Pernikahan ketiga di atas 74%. Bah, tinggi banget!

Tapi kenapa bisa kayak gini? Bukannya harusnya kalau sudah pernah menikah justru akan lebih ‘baik’ di pernikahan selanjutnya?

Ya bisa jadi karena itu tadi…ekspektasi juga harapan ‘diselamatkan’ dari status janda. Berharap dengan menikah lagi akan jadi solusi dari semua permasalahan hidup. Padahal bukannya selama kita masih bisa bernapas maka pasti kita akan menemukan masalah atau tantangan dalam hidup? Menikah kembali bukan jaminan hidup akan lancar bak jalan tol selama PSPB bukan?

Tulisan ini bukan untuk melarang Ibu Tunggal nikah lagi ya. Bukan itu maksud saya. Tolong baca dengan teliti dan buka hati.

Menikah lagi hanya untuk mencari penyelamat ini salah besar, Bu Ibu! Kenapa? Karena menempatkan diri kita di posisi lemah, tidak berdaya dan berharap suami baru akan jadi pahlawan padahal Tuhan dan Semesta sudah memampukan kita walau pun mungkin awalnya kita harus terseok-seok, penuh perjuangan. Harus banting tulang. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Ya begitu lah, saya ngerti banget kok lelahnya.

Pengen kayak orang-orang punya pasangan, nggak perlu capek berjuang sendiri. Wajaaar banget kok ngerasa kayak gitu. Tapi sejujurnya kita nggak pernah tau apa orang lain benar-benar bahagia dalam pernikahan mereka atau mereka hanya bertahan karena tidak punya keberanian untuk melepaskan apa yang dipandang sebagai formasi keluarga utuh.

Intinya, lebih baik benahi dulu ‘bagasi’ bawaan pasca perceraian sebelum mikirin hubungan baru, sebelum membuka hati. Kalau trauma masa lalu belum beres bisa-bisa kita jadi perempuan yang parnoan, dikit-dikit curiga, dikit-dikit ngungkit kejadian dengan mantan suami, super insecure sama diri sendiri apalagi sama pasangan baru. Ini sih resep buat malapetaka lama-lama. Bisa aja pasangan baru malah lelah karena nggak dipercaya. Ingat, jangan menghukum pasangan baru kamu karena dosa-dosa mantan! Menikah lagi hanya supaya nggak dibully karena lama menjanda juga jadi alasan salah untuk mengikat janji suci.

Sembuhkan dulu luka batin sebelum mikir untuk buka hati lagi. Jangan hanya karena malu jadi janda trus buru-buru lalu salah pilih dan kemudian cerai lagi. Pertimbangkan juga dampak psikologisnya bagi anak.

Ingat, ada anak-anak yang melihat setiap gerak-gerik, emosi juga kemampuan Ibunya untuk mengatasi permasalahan hidup. Apa kita mau ngajarin anak perempuan kita untuk menggantungkan bahagianya hanya dari laki-laki? Apa kita mau anak perempuan kita menurunkan standarnya hanya sekedar untuk punya pendamping hidup? Apa kita mau ngajarin anak laki-laki kita kalau perempuan itu terlalu lemah dan nggak bisa berdiri di atas kakinya sendiri?

Jawaban juga pilihannya ada pada diri sendiri, ladies!

Share this post
Written by
Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra remaja 14 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

View all articles
Leave a reply

1 comment
Written by Maureen

Founder

Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra remaja 14 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

SMI Podcast

Supported & Recognized by