• Search
  • Lost Password?

8 Tips Co-parenting yang Sukses

Apakah kamu kewalahan menjalankan Co-Parenting setelah bercerai? Atau bahkan belum pernah tau apa sebenarnya Co-Parenting itu. Kalau jawabannya ya, nggak papa kok. Co-Parenting adalah sebuah bentuk kerjasama antara dua orangtua yang sudah berpisah untuk tetap membesarkan anak-anaknya bersama.

Co-Parenting terkadang membuat perasaan marah, sakit hati, frustrasi dan kepahitan pasca perceraian muncul kembali ke permukaan. Permasalahan tentangan keuangan, emosional bahkan perbedaan-perbendaan fundamental dalam mendidik anak juga bisa muncul kembali. Mantan suami bereaksi dengan tipikal reaksi dia yang sama seperti sebelum bercerai dan kamu pun ketrigger kembali. Kamu mungkin merasa kritis dan menghakimi, direndahkan dan dipermalukan, bersalah jika kamu yang memutuskan untuk menggugat cerai, atau cemburu jika Mantan pasangan lebih baik dari kamu.

Contohnya, Rita dan Andi*, mereka telah sepakat untuk menjalankan Co-parenting setelah bercerai. Hak asuh anak-anak mereka pun sudah mereka sepakati untuk tidak dipermasalahkan. Supaya kesepakatan ini berhasil, dibutuhkan upaya iteraksi positif dan kerjasama dari Rita dan Andi.

Sayangnya Andi tetap memperlakukan Rita seperti saat mereka masih menikah dulu. Dia tetap menyalahkan Rita jika anak-anak mereka bersikap tidak baik. Dia mengeluh jika anak-anak menginap di rumahnya dan kehilangan kaus kaki atau hal-hal kecil lainnya. Dia berupaya menyingkirkan Rita dari kegiatan di sekolah. Dia tidak memberitahukan Rita tentang jadwal konsultasi dokter anak-anak misalnya.

Rita bereaksi dengan penuh emosi juga rasa frustrasi. Dalam hati Rita merasa tidak dihargai. Secara internal dia merasa tidak valid. Kepercayaan dirinya goyah di sekitar Andi. Dia pun lantas menghakimi pola asuh Andi dan kritik-kritik yang dia terima. Rasanya seperti pernikahan mereka terulang kembali. Saat Siklus ini berlanjut, Co-parenting mereka benar-benar rusak. Perilaku bermasalah anak-anak semakin meningkat. Mereka mulai bertingkah di sekolah.

Apa kamu mengenali cerita di atas? Bisa relate? Co-parenting kamu sudah berjalan tanpa masalah atau masih banyak rintangan?

Rita dan Andi memilih untuk bertemu psikolog untuk belajar bagaimana mereka dapat bekerjasama menjalankan Co-parenting. Berikut hal-hal yang mereka pelajari dan dengan membaiknya Co-parenting mereka, perilaku anak-anak pun membaik. Berikut hal-hal yang dapat kamu terapkan juga:

1. Informasi Penting Co-Parenting

Di bagian ini keduanya belajar tentang pola pikir menghadapi Co-parenting agar sukses. Mereka mereview manfaat-manfaat jika Co-parenting berhasil bagi anak-anak mereka sekaligus mengenali 4 kunci utama kesuksesan Co-parenting.

• Apa itu Co-Parenting?

Co-Parenting adalah saat kedua orangtua berperan aktif dalam kehidupan anak-anaknya. Jika ini berhasil, anak-anak memperoleh rasa stabilitas, kedekatan, dan keamanan yang dibutuhkan untuk kesehatan dan perkembangan mereka. Secara umum, anak-anak ini tidak mengalami banyak dampak buruk dari perceraian, dibandingkan dengan anak-anak yang terjebak dalam konflik orangtua yang sedang berlangsung. (Perhatikan bahwa Co-Parenting tidak disarankan jika ada kekerasan dalam rumah tangga atau penyalahgunaan obat-obat terlarang)

• Pola Pikir untuk Kesuksesan Co-parenting

Penting bagi setiap orangtua untuk berfokus pada kebutuhan dan kesejahteraan anak-anak. Itu berarti mengenyampingkan luka lama dan kebencian saat ini tentang hubungan perkawinan yang sudah berakhir ke latar belakang. Itu berarti tidak membiarkan diri kamu ketrigger untuk bereaksi dengan cara lama yang sama ketika mantan pasanganmu memancing. Alih-alih, belajarlah untuk meminggirkan trigger kamu itu dan fokus pada kebutuhan anak-anak. Itulah pola pikir Co-Parenting yang sukses – lebih mudah diucapkan daripada dilakukan ya? Tapi dengan kesadaran utuh, bisa kok dipraktekkan.

• Manfaat Co-Parenting

Penelitian Co-Parenting menunjukkan hal-hal berikut: Bukan perceraian itu sendiri yang menyebabkan anak-anak memiliki lebih banyak masalah emosional dan perilaku, kepercayaan diri yang rendah, dan kinerja akademis yang lebih buruk. Sebaliknya, kualitas Co-Parenting setelah perceraian terbukti menjadi faktor yang lebih besar daripada perceraian itu sendiri.

Manfaat Co-Parenting yang sukses untuk anak-anak termasuk:
• Anak merasa lebih aman, nyaman dengan hal yang kosisten
• Kesejahteraan yang lebih baik, termasuk kesehatan emosional dan perilaku
• Prestasi akademis yang lebih tinggi
• Rasa percaya diri yang lebih tinggi
• Kemampuan memecahkan masalah lebih baik
• Mereka dapat menjalin hubungan yang lebih sehat di saat dewasa

4 Komponen Utama dari Co-parenting

Teubert & Pinquart (*2010) dalam penelitiannya mengidentifikasi empat komponen utama dari Successful Co-Parenting. Agar berhasil di Co-Parenting, mantan Pasangan perlu bekerja untuk menguasai setiap komponen.

• Peningkatan Kerjasama

Bekerjasama dalam hal ini melibatkan mempertahankan pola pikir Co-Parenting yang positif, benar-benar mendengarkan satu sama lain, dan kemauan untuk berkomunikasi dan berkompromi.

• Kesepakatan Tentang Perawatan dan Pendidikan

Di sini kedua mantan pasangan perlu fokus pada anak-anak dan kebutuhan mereka sambil benar-benar mendengarkan satu sama lain. Kedua orangtua perlu mendiskusikan perbedaan pola pandang mereka sampai mencapai komporomi yang dapat disepakati bersama. Ada baiknya untuk menetapkan kriteria obyektif dan mengumpulkan semua fakta sebelum membuat keputusan besar bersama. Kedua belah orangtua perlu memastikan bahwa mereka tidak terpengaruh oleh ‘suara-suara’ orang lain – baik itu orangtua mereka sendiri atau teman-temannya – tapi mengambil keputusan bersama antara Ayah dan Ibu saja. Dalam hal pengasuhan, kedua orangtua ini perlu mengatur rutinitas agar anak merasakan konsistensi dari satu rumah ke rumah lainnya dan merasa aman dalam hal-hal yang mereka harapkan.

• Keunggulan dalam Manajemen Konflik

Mantan pasangan perlu sama-sama menyingkirkan amarah mereka dan fokus untuk mengutamakan kesejahteraan anak-anak mereka. Click To Tweet Mereka perlu menemukan cara untuk tidak menganggap remeh penilaian satu sama lain dan mencari solusi ketika mereka tidak sepakat akan suatu hal. Bukan tugas yang mudah tapi perlu demi anak-anak! Yang terpenting, mereka perlu memastikan bahwa anak-anak tidak terseret ke dalam konflik mereka. Jangan menggunakan anak sebagai ‘messenger’ untuk menyampaikan pesan kepada mantan pasangan!

• Menghindari Triangulasi

Triangulasi berarti Mantan Pasangan menarik anak ke sisinya untuk melawan Mantan Pasangan lainnya. Contoh perilaku seperti ini: memberi tahu anak hal-hal negatif tentang orangtua lain atau bahkan dengan menjelek-jelekkan orangtua lainnya di depan anak. Strategi perkubuan lainnya adalah menahan cinta jika orangtua lain lebih disukai anak atau mendekati anak. Intinya jangan pojokkan anak dan meminta mereka memilih kubu siapa untuk dibela. Ini tidak adil dan berbahaya untuk kesehatan mental anak.

2. Keterampilan Co-Parenting yang Berharga

Setelah menyerap dan memahami 4 komponen utama di atas, orangtua perlu menambah keterampilan mereka agar Co-parenting dapat berjalan dengan baik.

Orangtua perlu melatih keterampilan komunikasi dan negosiasi, serta bagaimana mempertahankan pola pikir positif. Mereka belajar melihat sesuatu dari sudut pandang Mantan Pasangan mereka untuk membuat pengambilan keputusan bersama lebih mudah. Orangtua belajar melepaskan diri dari amarah dan judgements dan tidak membiarkan permusuhan pribadi mereka mengalir ke dalam interaksi mereka di sekitar anak-anak. Sebaliknya mereka bekerja untuk tetap kooperatif dan objektif. Orangtua belajar teknik pengurangan stres ketika mereka dipicu oleh pola lama mantan pasangannya.

Mempelajari dan menguasi kemampuan tersebut di atas akan membuat Co-parenting berjalan lebih sehat. Alih-alih terperangkap dalam lingkaran setan yang sama seperti masa pernikahan, kedua belah pihak kini bisa berada dalam lingkaran kooperatif. Secara sadar memilih untuk bekerjasama walau pun tidak mudah demi kepentingan anak-anak.

Meskipun kamu mungkin merasa pesimis dengan Mantan Pasangan untuk membuat perubahan seperti itu, ingatlah bahwa motivasi terbesar hal ini adalah demi kesejahteraan anak-anak.

Berikut adalah pedoman dalam menjalan Co-parenting yang sukses pasca perceraian:

8 Tips Co-parenting yang Sukses

1. Jangan merendahkan Mantan Pasangan di depan/di belakang anak-anakmu!
Sebisa mungkin selalu berbicara tentang hal-hal positif menyangkut mantan pasangan. Menjelekkan mantan pasangan di depan anak-anak adalah bentuk triangulasi.

2. Jangan memihak kepada anak hanya untuk melawan mantan pasangan.
Bicaralah secara pribadi dengan Mantan Pasangan tentang cara menangani perilaku anak jika ada masalah.
Memihak anak untuk melawan Mantan Pasangan adalah bentuk triangulasi.

3. Jangan berdebat di depan anak.
Tetap tenang di depan anak-anak Anda dan tangani konflik secara pribadi.
Tingkat konflik yang tinggi berdampak negatif pada anak Anda.

4. Jangan bantu anak-anak untuk mengabaikan jadwal kunjungan.
Buat jadwal Co-parenting dan stick to the schedule!
Poin ini memperkuat “Kesepakatan Tentang Perawatan dan Pendidikan”.

5. Jangan melanggar perjanjian dengan Mantan Pasangan
Hormati semua kesepakatan. Negosiasikan ulang sesuai kebutuhan.
Poin ini mendorong kerja sama tingkat tinggi.

6. Jangan bereaksi dengan cara yang sama kepada Mantan Pasangan saat kamu ketrigger.
Belajarlah untuk melepaskan diri dan pilih cara bereaksi yang lebih berguna.
Poin ini mendorong kerja sama tingkat tinggi dan tingkat konflik yang rendah.

7. Jangan menahan informasi tentang anak-anak dari Mantan Pasangan
Buatlah kalender bersama (contoh gunakan kalender Google). Komunikasikan dengan mantan pasangan tentang kegiatan anak-anak.
Poin ini memperkuat “Kesepakatan Tentang Perawatan dan Pendidikan”.

8. Jangan menahan kekhawatiranmu tentang anak jika terjadi sesuatu
Belajarlah untuk berkomunikasi secara efektif dengan Mantan Pasangan tentang semua aspek anak-anak kalian.
Poin ini memperkuat Kerjasama yang ditingkatkan dan “Kesepakatan Tentang Perawatan dan Pendidikan”.

Kesimpulan – Untuk terlibat dalam Co-parenting yang sangat baik membutuhkan banyak kerja sama. Co-parenting membutuhkan melepaskan reaksi marah terhadap perbedaan antara kamu dan mantan pasangan. Selain itu, saat menjalankan Co-parenting, kedua belah pihak perlu belajar mengesampingkan kebencian dari masa lalu.

Co-parenting yang sukses memerlukan komunikasi yang baik dan sering serta kemampuan untuk menegosiasikan perbedaan, daripada menunjukkan pola reaktivitas negatif seperti ketika masih menikah. Menjalankan Co-parenting yang baik tidaklah mudah, tetapi manfaat dari perkembangan sehat anak-anak kalian jauh lebih penting dan berharga Click To Tweet.

(* Riset: Daniela Teubert & Martin Pinquart (2010) The Association Between Coparenting and Child Adjustment: A Meta-Analysis, Parenting, 10:4, 286-307)

*bukan nama sebenarnya

Written by
Maureen

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal dengan satu putra yang berusia 13 tahun. Maureen membentuk dan mengelola Single Moms Indonesia sejak tahun 2014. Ia ingin komunitas Single Moms Indonesia bisa menguatkan dan menginspirasi lebih banyak ibu tunggal untuk kembali berdaya dan berbahagia bersama anak-anak mereka.

View all articles
Leave a reply

Invalid OAuth access token.
Written by Maureen

Instagram

Invalid OAuth access token.

SMI Podcast