• Search
  • Lost Password?
Pertanyaan Terlarang untuk Para Single MomsPertanyaan Terlarang untuk Para Single Moms
Pertanyaan Terlarang untuk Para Single Moms

10 Pertanyaan Terlarang untuk Para Single Moms

Pertanyaan Terlarang untuk Para Single Moms
Pertanyaan Terlarang untuk Para Single Moms

Siang itu saya sedang menunggu hasil yudisium sidang tesis sambil mengobrol dengan sahabat laki-laki saya di kampus, sebut saja Joe. Seperti biasa, bertemu dengan Joe selalu menyenangkan, ngobrol apapun dari yang serius sampai hal absurd. Sampai akhirnya, Joe terdiam sejenak dan bertanya pada saya, “Eh, kalau lu lagi pengen ‘itu’ terus gimana? Lu kan udah nggak ada suami?”

What? Rasanya pengen ngejengkang dari kursi. Walaupun kami dekat, tapi tetap saja saya kaget ditanyai hal seperti itu. Reaksi saya: mesem-mesem, antara kesel banget dan malu. Akhirnya yang keluar dari mulut saya hanya, “Yaelah, boro-boro kepikiran gitu deh. Punya waktu tidur 4 jam sehari aja udah alhamdulillah banget, boro-boro inget begituan.” Dan buru-buru saya membelokkan obrolan ke topik lainnya.

Setelah itu saya langsung ilfeel sama sahabat saya yang satu itu. Duh, kok bisa-bisanya ya dia bertanya hal intim seperti itu. Penasaran mungkin ya? Tapi kan tetap saja, nggak wajar untuk diomongin antara saya dan dia, antar lawan jenis walaupun kami bersahabat. Eh, atau hanya saya saja yang merasa seperti ini? Hehe..

Masyarakat Indonesia memang masih belum terbiasa menerima status single mom (saya lebih nyaman menyebutnya demikian daripada menulis j**d*). Ada beberapa hal yang sebenarnya sangat sensitif untuk ditanyakan kepada seorang single mom. Sesuatu yang untuk orang kebanyakan kedengarannya sepele, namun bagi kami pertanyaan itu bagai petir di siang hari. Bagai luka terkena cuka. Tapi seiring waktu, akhirnya kami terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan ‘lucu’ tersebut dan bisa menjawab sambil bercanda.

So, sebaiknya, nggak usah bertanya tentang 10 hal di bawah ini kepada para single moms ya. Kalau keukeuh mau bertanya, nggak ada yang nanggung akibatnya ya. Haha..

1. Nggak takut dijauhi orang-orang?
What? Ada masalah dengan janda? Bahaya apa yang bisa kami timbulkan? Silahkan bilang hati-hati pada copet atau teroris, tapi tidak pada single mom.

2. Mantanmu sudah nikah lagi?
Actually, it’s not my business. Dan lagi, saya terlalu sibuk bekerja dan membesarkan anak saya daripada mencari tau apakah dia sudah menemukan pengganti saya atau belum. Masih penasaran? Silahkan tanya langsung ke orangnya 🙂

3. Kok kamu belum nikah lagi?
Biasanya pertanyaan ini akan disampaikan menyambung pertanyaan sebelumnya, “Mantanmu sudah nikah lagi belum? Lha kamu kapan nikah lagi?”. Begini ya Pak, Bu, setelah mengalami perpisahan yang sangat mengguncang hati dan pikiran kami, kami jadi punya pertimbangan kami untuk menikah untuk kali kedua menjadi lebih besar daripada ketika pertama kami menikah dulu. Setelah tau getir dan duka pernikahan, kami akan berpikir ratusan kali saat akan memulai hubungan yang baru. Jadi, please, simpan saja pertanyaan itu untuk para anak muda di hari Lebaran nanti ya, bukan untuk kami.

4. Memangnya kamu sanggup menafkahi anak-anakmu?
Iya, saya sanggup dan pasti disanggupi oleh Allah. Anak yang lahir ke dunia pasti sudah memiliki rezekinya masing-masing dan saat anak tersebut belum mampu menjemput rezekinya sendiri, Allah akan menitipkan rezeki tersebut pada orangtuanya atau lewat tangan orang lain. Masih nggak percaya? Buktinya sampai hari ini kami masih bisa makan, anak-anak masih bisa sekolah dengan layak. Semua sudah cukup untuk kami, yang penting hidup kami tenang dan bahagia.

5. Memangnya salah kamu apa sih, sampai dicerain segala?
Oke, saya sendiri speechless saat salah satu mommy di grup Single Moms Indonesia bercerita bahwa ia pernah ditanya hal seperti ini oleh kerabatnya. Apa yang dipikirkan orang-orang itu sampai bisa melontarkan pertanyaan konyol seperti ini? Dapat poinnya, kan?
Intinya, siapapun yang salah, hal terbaik yang bisa kami lakukan untuk diri kami dan anak-anak adalah perpisahan dengan suami.

6. Mbak, laki-laki yang kemarin siapa? Terus yang tadi pagi siapa? Blablabla..
Biasanya pertanyaan ini akan keluar dari teman, sahabat, keluarga atau tetangga yang kepo berat. Melihat kenyataan bahwa di Indonesia stigma negatif masih melekat pada status single mom, maka mereka merasa tak salah jika bertanya mengapa teman laki-laki kita selalu berganti-ganti. Lho, itu kan klien saya, Pak. Itu kan teman kerja saya, Bu. Dia kan bos saya, Mas.
Apapun yang kami lakukan, kami akan selalu menjaga kehormatan kami untuk anak-anak kami. Titik.

7. Memangnya nggak kasihan sama anak? Kasihan dia tumbuh nggak ada bapak.
Lebih kasihan lagi kalau ia tumbuh di dalam rumah yang selalu penuh dengan cekcok ibu-bapaknya, rumah yang penuh kekerasan, melihat salah satu orangtuanya berkhianat dengan orang lain. Lebih kasihan, bukan? Jadi, jangan pikir kami kejam pada anak-anak kami. Justru anak-anak lah yang menjadi alasan kami untuk berpisah dan memulai hidup baru yang lebih baik. Kami mencoba kembali berdiri di kaki sendiri dan belajar berbahagia lagi. Karena tau kan, kalau anak-anak yang bahagia itu terlahir dari ibu-ibu yang bahagia.

8. Nggak mau nambah anak?
Jujur, saya selalu memimpikan punya anak selusin. Haha, iya. Betapa kecewanya saya ketika pernikahan saya harus kandas di usia pernikahan yang masih seumur jagung. Lalu bagaimana dengan mimpi saya? Ya, dijadikan mimpi saja. Bukan berarti tidak akan terlaksana, kan? Siapa tau nanti akan ada jalannya kami akan menemukan jodoh dan memiliki anak-anak lagi. Atau mungkin, rezeki kami memang sebegini. Yang pasti, Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. So, nggak usah bertanya pertanyaan itu lagi ya 🙂

9. Bagaimana kalau nanti anakmu kayak bapaknya?
Kayak bapaknya bagaimana? Tukang minum? Selingkuh? Tangan dingin? Atau apa?
Anak kami akan seperti apa yang akan kami didik sejak kecil. Dan jika anak kami laki-laki, kami akan mendidik mereka menjadi laki-laki yang menghargai dan melindungi perempuan.

10. Kalau pengen ‘itu’ gimana?
Ah, kembali ke pertanyaan si Joe. Jawabannya? Ya masih sama. Boro-boro kepikiran hal seperti ini. Masih punya waktu luang untuk melakukan hobi kami pun, kami sudah bahagia luar biasa. Jadi, jangan tanya kayak gitu lagi ya, Bro! Hihi..

Jadi, jangan tanyakan hal-hal ini kepada kami, para single mom kece, ya! 🙂

Love,
dc

*Postingan ini terinspirasi dari postingan member Single Moms Indonesia di grup Facebook. Ingin bergabung? Silahkan hubungi admin ya 🙂

The following two tabs change content below.
- Bubunya Ahza - Life long learner mom - Blogger - Kids Book Advisor - Lecturer -

Latest posts by dc (see all)

Comments

comments

Written by
dc

- Bubunya Ahza - Life long learner mom - Blogger - Kids Book Advisor - Lecturer -

View all articles
Leave a reply

Written by dc

Categories

Support Us

Follow us

Proactively formulate resource-leveling imperatives through alternative process improvements.